Indonesia Kehilangan Rachmat Gobel, Maestro Industri dan Negarawan
Kabar duka kembali menyelimuti Tanah Air. Rachmat Gobel, figur sentral dalam lanskap bisnis dan politik nasional, dikabarkan meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi k...
Kabar duka kembali menyelimuti Tanah Air. Rachmat Gobel, figur sentral dalam lanskap bisnis dan politik nasional, dikabarkan meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar, tetapi juga menandai kehilangan besar bagi Indonesia—sebuah bangsa yang telah ia layani melalui dua jalur strategis: sebagai pelopor industrialisasi elektronik dan sebagai pemimpin yang lantang menyuarakan kepentingan rakyat. Publik kini bertanya-tanya: bagaimana tonggak sejarah yang telah ia bangun akan terus hidup, dan siapa yang akan meneruskan visinya tentang kemandirian teknologi serta ekonomi kerakyatan?
Dari Bengkel Radio Menuju Imperium Elektronik Nasional
Nama besar Rachmat Gobel tidak bisa dilepaskan dari perjalanan heroik sebuah perusahaan keluarga yang berhasil menembus jaringan produksi global. Gobel Group, yang kini dikenal sebagai salah satu konglomerasi teknologi terbesar di Indonesia, berawal dari visi sang ayah, almarhum Thayeb Mohammad Gobel, yang mendirikan bengkel radio sederhana pada tahun 1954. Di bawah kendali generasi kedua, Rachmat mengambil alih kemudi dan melakukan transformasi radikal: membawa perusahaan bermitra strategis dengan raksasa elektronik Jepang, Matsushita Electric (kini Panasonic).
Kemitraan itu bukan sekadar bisnis waralaba. Rachmat Gobel berhasil menegosiasikan perjanjian yang memungkinkan transfer teknologi dan pembangunan pabrik perakitan di lahan yang kini menjadi kawasan industri Gobel di Cawang, Jakarta Timur. Pada puncak kejayaannya, pabrik tersebut mempekerjakan puluhan ribu tenaga kerja dan menjadi ikon kebangkitan industri manufaktur dalam negeri. Produk Televisi Hitam Putih bermerek “National” yang keluar dari lini produksinya adalah simbol modernitas Indonesia di era 1970-an hingga 1980-an. Lebih dari sekadar pengusaha sukses, Rachmat adalah arsitek yang menjembatani inovasi teknologi global dengan proses produksi lokal, menjadikannya salah satu tokoh paling dihormati dalam sejarah industrialisasi di Asia Tenggara.
Mengabdi di Panggung Politik dan Pemerintahan
Kesuksesan sebagai industrialis tidak membuat Rachmat Gobel berhenti pada zona nyamannya. Ia memilih untuk masuk ke kancah politik dengan motivasi yang ia sebut sebagai “panggilan moral” untuk memperjuangkan nasib petani, nelayan, dan produsen kecil. Langkahnya dimulai dengan menjabat sebagai Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia periode 2010-2013, di mana ia aktif mendorong agenda hilirisasi sumber daya alam dan penguatan pasar domestik.
Puncak karir politiknya terjadi pada 27 Oktober 2014 hingga 12 Agustus 2015, saat Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Perdagangan. Masa jabatannya yang singkat namun penuh warna itu diwarnai kebijakan kontroversial namun visioner untuk menutup gerai ritel waralaba asing di area pemukiman, demi melindungi warung tradisional. Meski mendapat tekanan dari investor global, Rachmat tetap teguh pada prinsipnya bahwa kedaulatan ekonomi tidak bisa dikompromikan. Setelah dari kabinet, ia melanjutkan pengabdian di parlemen sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem dan kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan (Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan/“Korinbang”). Di sanalah suaranya terus mengkritik kebijakan impor yang menurutnya mematikan industri dalam negeri, termasuk kegigihannya mendorong revisi regulasi sumber daya alam dan energi.
Legasi Seorang Tokoh Lintas Generasi
Kepergian Rachmat Gobel meninggalkan patahan mendalam di hati para kolega, politisi, dan jutaan buruh yang pernah merasakan dampak dari kebijakan dan bisnisnya. Sosoknya dikenal bersahaja; seorang miliarder yang nyaman mengenakan kemeja putih sederhana dan berbicara dengan logat Gorontalo yang kental. Ia adalah perpaduan langka antara kapitalis cerdas dan patriot garis keras. Bagi generasi muda, langkahnya membuktikan bahwa teknologi dan inovasi manufaktur bisa selaras dengan proteksi ekonomi rakyat kecil. Ia membangun jembatan antara “Indonesia pabrik” dan “Indonesia pasar”, sebuah warisan yang kini menjadi tanggung jawab para penerusnya untuk dilanjutkan.
Di gedung parlemen, kursi tempatnya biasanya berdebat keras mempertahankan amandemen undang-undang kini kosong. Di lahan pabriknya di Cawang, gemuruh mesin produksi masih akan terus berputar, namun kehilangan sang nakhoda visioner. Kehilangan ini bukan hanya milik satu partai atau satu perusahaan; ini adalah kehilangan satu generasi pendiri republik yang melihat bahwa kemakmuran suatu bangsa harus ditopang oleh kemampuan memproduksi, bukan sekadar mengonsumsi. Indonesia kehilangan Rachmat Gobel, dan bersama kepergiannya, negeri ini kehilangan salah satu kisah paling mengilhami tentang bagaimana bengkel sederhana bisa tumbuh menjadi kekuatan yang membentuk arah kebijakan ekonomi sebuah negara.
Baca juga:
Comments (0)