Harga Pangan Diproyeksi Melonjak Sampai 2028 Akibat El Nino Ekstrem

Dunia sedang berada di persimpangan dua krisis besar yang saling memperkuat: anomali iklim paling liar dalam puluhan tahun dan ketegangan geopolitik yang membakar jalur logistik pangan. Keduanya berge...

Harga Pangan Diproyeksi Melonjak Sampai 2028 Akibat El Nino Ekstrem

Dunia sedang berada di persimpangan dua krisis besar yang saling memperkuat: anomali iklim paling liar dalam puluhan tahun dan ketegangan geopolitik yang membakar jalur logistik pangan. Keduanya bergerak serentak, menggerus produksi pertanian dan mengerek biaya distribusi, sehingga lonjakan harga bahan makanan diprediksi bukan sekadar kejutan sesaat, melainkan badai yang akan menghantam piring makan keluarga setidaknya hingga tahun 2028. Yang membuat situasi kali ini berbeda adalah sifat El Nino Godzilla yang tidak hanya mengacak cuaca, tetapi juga menekan pasokan dari lumbung-lumbung pangan utama di saat yang sama dunia kehilangan akses ke pupuk dan energi dari kawasan Teluk Persia akibat perang Iran. Dampaknya, inflasi pangan global diperkirakan memicu gelombang kerawanan yang merambat ke negara berkembang paling rentan, termasuk Indonesia.

El Nino Godzilla: Monster Iklim yang Memangsa Produksi

Sebutan "Godzilla" untuk fenomena El Nino kali ini bukanlah hiperbola. Model prediksi iklim menunjukkan anomali suhu permukaan laut di Pasifik tengah mencapai 2,3°C di atas normal, yang menjadikannya salah satu dari tiga El Nino terkuat yang pernah tercatat. Ibarat raksasa yang menarik tuas cuaca, pemanasan ini memindahkan sabuk hujan dari Asia Tenggara ke Pasifik timur, membuat sawah-sawah di Thailand, Vietnam, dan India—negara pengekspor beras utama dunia—mengering. Data Kementerian Pertanian Thailand mencatat produksi padi musim kemarau tahun ini ambles 18% di bawah rata-rata lima tahunan, sementara cadangan beras global menyusut ke level terendah dalam satu dekade.

Indonesia, yang selama ini relatif tangguh berkat program lumbung pangan nasional, tidak bisa mengabaikan efek domino. Saat El Nino memperpanjang musim kering di Jawa dan Sumatra, pasokan air untuk trigasi anjlok, memaksa petani menunda tanam. Bulog, badan logistik nasional, melaporkan stok beras pengaman hanya cukup untuk tujuh bulan ke depan—angka yang biasanya terlihat setelah panen raya, bukan di awal siklus tanam. Negara kita mungkin tidak langsung kekurangan beras, tetapi harga di pasar lelang internasional yang naik 32% dalam enam bulan terakhir pasti merembes ke harga eceran di dalam negeri karena kita masih mengimpor beras khusus dan jagung pakan ternak.

Perang Iran dan Biaya Tersembunyi di Setiap Butir Pangan

Jika El Nino memukul dari sisi produksi, konflik bersenjata di Iran menusuk dari sisi input. Jalur minyak dan gas alam yang melewati Selat Hormuz tersendat, menyebabkan harga pupuk nitrogen—yang dibuat dari gas alam—meroket dua kali lipat sejak awal tahun. Bagi petani jagung di Brasil atau petani palawija di Jawa Timur, pupuk adalah penyumbang 30-40% biaya operasi. Kenaikan itu memaksa mereka mengurangi dosis pemupukan, yang pada akhirnya menurunkan hasil panen per hektare. Sementara itu, blokade pelayaran di Teluk Persia memperlambat pengiriman gandum dari Rusia dan Ukraina yang masih memulihkan diri dari perang sebelumnya, menciptakan kemacetan logistik yang biayanya dibebankan ke konsumen.

Efek ganda ini jarang terjadi secara bersamaan dalam catatan sejarah ekonomi pangan modern. Biasanya, kekeringan ekstrem bisa diimbangi dengan stok global yang longgar dan biaya distribusi yang stabil. Kali ini tidak. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam simulasi terbarunya menunjukkan bahwa kombinasi guncangan pasokan dan kenaikan biaya energi dapat mendorong inflasi harga pangan di negara berkembang mencapai 14-18% per tahun, lebih tinggi dari krisis pangan 2008 yang memicu kerusuhan di puluhan negara.

Mengapa Dampaknya Bisa Bertahan hingga 2028

Perkiraan bahwa tekanan ini akan bertahan hingga akhir dekade bukanlah ramalan pesimistis tanpa dasar. Siklus El Nino biasanya berlangsung satu hingga dua tahun, tetapi kerusakan pada struktur produksi memerlukan waktu pemulihan yang panjang. Pohon kakao di Pantai Gading yang mati akibat kekeringan perlu ditanam ulang dan baru berbuah setelah empat tahun. Peternak sapi di Australia yang memotong ternak prematur karena padang rumput gosong akan membutuhkan dua hingga tiga siklus penggemukan untuk memulihkan populasi. Sementara itu, infrastruktur pupuk di kawasan Teluk yang rusak akibat perang tidak bisa dibangun kembali dalam semalam—apalagi jika sanksi dan ketidakpastian politik menghalangi investasi.

Banyak negara pengimpor pangan juga akan terjebak dalam spiral fiskal. Untuk menekan inflasi domestik, mereka menghabiskan cadangan devisa untuk subsidi impor, yang kemudian melemahkan nilai tukar dan membuat impor berikutnya semakin mahal. Indonesia dengan kebijakan Bantuan Pangan Non-Tunai dan operasi pasar Bulog mungkin bisa meredam gejolak untuk sementara, tetapi jika tekanan berlangsung lima tahun, anggaran sosial akan terbebani. Bank Indonesia memproyeksikan bahwa setiap kenaikan 10% harga beras dunia berkontribusi 0,3% pada inflasi inti domestik—dan dengan skenario saat ini, kenaikannya bisa berlipat-lipat.

Peta Jalan Keluar: Antara Inovasi dan Kemandirian

Menghadapi badai yang panjang, solusi jangka pendek seperti operasi pasar dan importasi darurat hanya sebatas plester. Dunia butuh investasi besar-besaran dalam pertanian tahan iklim: varietas padi yang bisa bertahan di suhu panas ekstrem, sistem irigasi presisi yang menggunakan sensor kelembaban tanah, dan ekosistem pupuk hayati yang mengurangi ketergantungan pada gas alam. Di dalam negeri, program food estate yang sempat menuai kritik justru bisa menjadi batu ujian jika dikelola dengan pendekatan sains terbuka, bukan sekadar perluasan lahan tanpa perhitungan hidrologi.

Data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menunjukkan bahwa adopsi teknologi pertanian digital—seperti aplikasi pemantauan hama berbasis citra satelit—dapat meningkatkan hasil panen hingga 22% pada lahan kering di Nusa Tenggara. Itu adalah potensi yang sering terabaikan di tengah narasi besar tentang swasembada. Sementara itu, diplomasi pangan perlu diarahkan untuk mendiversifikasi sumber impor dari negara-negara Amerika Latin dan Afrika Timur yang relatif lebih stabil secara geopolitik, agar Indonesia tidak terlalu terpapar gejolak di rute perdagangan tradisional Asia-Pasifik. Ancaman lonjakan harga hingga 2028 adalah keniscayaan jika kita hanya menunggu cuaca bersahabat; tetapi ia bisa menjadi katalis untuk lompatan kemandirian pangan sejati jika direspons dengan kebijakan berbasis riset dan transparansi data stok. Pilihan ada di tangan kita, sebelum monster iklim dan politik menentukan nasib piring rakyat.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User