Harga Daging Ayam di Medan Melonjak Seiring Kembalinya MBG

Pasar tradisional di Kota Medan dan wilayah sekitarnya kini dihadapkan pada kenyataan pahit: harga daging ayam segar merangkak naik secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini bukan s...

Pasar tradisional di Kota Medan dan wilayah sekitarnya kini dihadapkan pada kenyataan pahit: harga daging ayam segar merangkak naik secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi musiman biasa. Ada katalis baru yang mengubah dinamika permintaan, yakni dimulainya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang secara langsung mendorong lonjakan kebutuhan protein hewani dalam jumlah besar.

Lonjakan Harga di Tingkat Pasar

Berdasarkan pemantauan di lapangan, harga daging ayam broiler di sejumlah titik perdagangan utama seperti Pasar Petisah, Pasar Simpang Limun, dan Pasar Sambas kini bergerak di kisaran Rp38.000 hingga Rp42.000 per kilogram. Angka ini mencatatkan kenaikan rata-rata sebesar 15 hingga 20 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang masih bertahan di level Rp32.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Beberapa pedagang bahkan melaporkan bahwa harga dari pemasok sudah menyentuh angka yang lebih tinggi, memaksa mereka untuk menyesuaikan harga jual demi menjaga margin yang kian tipis.

Pantauan serupa juga terjadi di pasar-pasar tradisonal di kawasan Deli Serdang dan Binjai yang turut merasakan imbas kenaikan. Distributor mengakui bahwa volume pasokan sebenarnya masih relatif stabil, namun tekanan dari sisi permintaan yang mendadak meningkat menjadi faktor utama yang mendorong harga ke atas. Ibarat bejana bertekanan, ketika katup permintaan dibuka lebar sementara kapasitas pasokan belum sempat menyesuaikan, maka lonjakan harga menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Efek Bergulir Program MBG terhadap Rantai Pasok Lokal

Program Makan Bergizi Gratis yang kembali bergulir membawa misi mulia: memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi seimbang, termasuk protein hewani dari daging ayam. Namun di sisi lain, implementasi program berskala besar ini menciptakan gelombang permintaan baru yang cukup signifikan. Setiap hari, dapur-dapur penyedia makanan program MBG membutuhkan pasokan daging ayam dalam jumlah tonase yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan ribuan porsi makanan.

Mekanisme pengadaan yang terpusat dan berkala membuat para pemasok besar mengalihkan sebagian besar stok mereka ke program pemerintah ini. Konsekuensinya, pasokan ke pasar tradisional mengalami penyusutan. Ketika kuantitas yang tersedia untuk konsumen umum berkurang sementara permintaan rumah tangga tetap tinggi, hukum ekonomi klasik pun bekerja: harga naik. Perlu dipahami bahwa MBG sendiri merupakan inisiatif nasional yang digulirkan pemerintah sebagai bagian dari strategi besar peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi. Program ini menyasar jutaan peserta didik di seluruh Indonesia, dan Medan sebagai salah satu kota metropolitan utama menjadi titik distribusi yang masif.

Dampak ikutannya tidak hanya dirasakan oleh konsumen rumah tangga. Pelaku usaha kuliner skala kecil hingga menengah—seperti warung makan, penjual soto, dan pedagang ayam geprek—juga mengeluhkan kenaikan biaya bahan baku. Beberapa di antaranya terpaksa mengurangi porsi atau menaikkan harga jual menu mereka. Situasi ini menciptakan efek domino yang menjalar dari hulu ke hilir, dari peternak hingga piring konsumen.

Suara Pedagang dan Konsumen di Tengah Gejolak Harga

Di balik angka-angka statistik, ada cerita para pedagang pasar yang harus berstrategi di tengah situasi sulit. Sejumlah pedagang daging ayam di Pasar Petisah mengaku was-was karena kenaikan harga otomatis menurunkan daya beli pelanggan setia mereka. Volume penjualan harian mengalami penurunan meskipun nilai nominalnya naik. Konsumen kini cenderung membeli dalam jumlah lebih sedikit atau beralih ke sumber protein alternatif seperti telur dan tahu-tempe.

Dari sisi konsumen, keresahan terasa nyata. Ibu rumah tangga yang mengandalkan daging ayam sebagai lauk harian harus merogoh kocek lebih dalam. Sebagian mengaku terpaksa menyesuaikan menu keluarga, mengurangi frekuensi konsumsi daging ayam dari yang semula tiga kali seminggu menjadi satu atau dua kali saja. Kondisi ini tentu berpotensi memengaruhi kualitas asupan gizi keluarga, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga pangan.

Para pemangku kepentingan, termasuk dinas perdagangan dan ketahanan pangan setempat, diharapkan mengambil langkah proaktif. Intervensi pasar melalui operasi pasar murah, koordinasi dengan distributor dan peternak lokal, serta pemantauan ketat terhadap potensi spekulasi harga menjadi sejumlah opsi yang perlu dipertimbangkan. Keseimbangan antara keberhasilan program gizi nasional dan stabilitas harga pangan di tingkat konsumen menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan kolaborasi lintas sektor.

Diperkirakan, tekanan harga masih akan bertahan hingga rantai pasok mampu beradaptasi sepenuhnya dengan pola permintaan baru yang diciptakan oleh program MBG. Adaptasi ini bisa berupa peningkatan kapasitas produksi peternak lokal, penambahan kuota pasokan, atau diversifikasi sumber protein dalam menu MBG agar beban tidak sepenuhnya bertumpu pada daging ayam. Apapun jalannya, yang jelas masyarakat berharap agar gejolak harga ini tidak berlarut-larut dan ketersediaan pangan bergizi tetap terjangkau bagi semua kalangan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User