Harga BBM Terbaru Pertamina, BP, Shell, VIVO Mulai 13 Juli 2026
Mulai 13 Juli 2026, seluruh jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia—mulai dari Pertamina, BP, Shell, hingga VIVO—secara serentak memperbarui daftar harga bahan bakar minyak...
Mulai 13 Juli 2026, seluruh jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia—mulai dari Pertamina, BP, Shell, hingga VIVO—secara serentak memperbarui daftar harga bahan bakar minyak (BBM) mereka. Penyesuaian ini terjadi di tengah pergerakan harga minyak mentah dunia yang terus berfluktuasi selama kuartal ketiga, ditambah dengan dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Bagi pengguna kendaraan pribadi, pengusaha transportasi, hingga pelaku logistik, setiap perubahan harga BBM memberikan dampak nyata pada perhitungan biaya operasional harian. Oleh karena itu, memahami rincian harga terbaru di keempat jaringan SPBU utama ini menjadi langkah krusial untuk menyesuaikan anggaran pengeluaran.
Secara umum, mekanisme penetapan harga BBM di Indonesia mengikuti dua skema besar. Pertama, BBM Penugasan dan subsidi seperti Solar dan Pertalite yang harganya ditetapkan langsung oleh pemerintah melalui PT Pertamina (Persero). Kedua, BBM Umum atau non-subsidi yang harganya disesuaikan setiap bulan oleh badan usaha berdasarkan formula harga indeks pasar (HIP) yang dihitung dari rata-rata harga minyak dunia (Mean of Platts Singapore/MOPS) ditambah distribusi dan margin. SPBU asing seperti BP, Shell, dan VIVO juga menggunakan acuan serupa, sehingga wajar jika terjadi penyesuaian rutin saat variabel global berubah. Per 13 Juli 2026, data menunjukkan ada kenaikan tipis pada sebagian besar produk BBM non-subsidi dibandingkan posisi akhir Juni lalu.
Rincian Harga di SPBU Pertamina
Pertamina memberlakukan tarif BBM dengan membagi kategori produk antara yang mendapat subsidi dan yang mengikuti pasar. Pertalite (RON 90), yang masih menjadi andalan mayoritas pengendara, dipertahankan pada angka Rp 10.000 per liter sesuai kebijakan pemerintah yang berorientasi pada daya beli masyarakat. Sementara itu, Pertamax (RON 92) mengalami penyesuaian naik sebesar Rp 200, menjadi Rp 14.100 per liter dari sebelumnya Rp 13.900. Pertamax Turbo (RON 98) yang menyasar mobil berperforma tinggi kini dibanderol Rp 15.800 per liter, naik Rp 250. BBM diesel pun tak luput dari perubahan: Solar subsidi tetap di Rp 6.800 per liter, sedangkan Dexlite (CN 51) bertengger di Rp 15.400 per liter dan Pertamina Dex (CN 53) di Rp 16.200 per liter, masing-masing naik Rp 300. Kenaikan ini sejalan dengan pemulihan permintaan global dan melemahnya rupiah ke kisaran Rp 16.000 per dolar AS.
Penyesuaian di SPBU BP
Jaringan BP yang memiliki cakupan luas di Jabodetabek dan Surabaya juga mengumumkan pembaruan harga pada tanggal yang sama. BP 92, BBM oktan rendah mereka, ditetapkan sebesar Rp 14.300 per liter, naik Rp 150 dibandingkan bulan lalu. Adapun BP 95 yang mengandung aditif pembersih mesin kini mencapai Rp 15.600 per liter, mengalami kenaikan Rp 200. Untuk segmen diesel, BP Diesel dengan cetane number tinggi dipatok Rp 15.800 per liter. Yang menarik, BP tetap mempertahankan layanan Ultimate 4+ dengan harga Rp 16.000 per liter, yang diklaim mampu menjaga kebersihan ruang bakar melalui teknologi formulasi bahan bakar terbaru. Harga-harga ini mencerminkan strategi BP yang konsisten menawarkan nilai tambah melalui kualitas aditif meskipun harga cenderung lebih tinggi dari kompetitor lokal.
Harga BBM Shell dan VIVO
Shell, dengan jaringan SPBU yang tersebar di kota-kota besar, menerapkan harga yang kompetitif dibandingkan pemain internasional lainnya. Shell Super (RON 92) sekarang dihargai Rp 14.350 per liter, naik tipis Rp 100. Shell V-Power (RON 95), yang menjadi varian unggulan, menyentuh Rp 15.550 per liter, sementara Shell V-Power Diesel berada di Rp 15.900 per liter. Kenaikan ini juga dialami oleh varian Shell Diesel Extra yang naik menjadi Rp 15.500 per liter. Pihak Shell menekankan bahwa seluruh produk mereka sudah mengandung formula Dynaflex yang membantu mengurangi gesekan internal mesin, sehingga perbedaan harga bisa berbanding lurus dengan efisiensi bahan bakar yang dirasakan pengemudi.
Sementara itu, VIVO yang dikenal dengan strategi harga lebih rendah, menerapkan penyesuaian dengan besaran lebih moderat. Revvo 92 (RON 92) mereka dijual Rp 13.800 per liter, hanya naik Rp 100. Revvo 95 (RON 95) ditetapkan pada Rp 14.700 per liter, naik Rp 150. VIVO juga menawarkan Revvo Diesel yang dipatok Rp 15.000 per liter. Pendekatan harga VIVO yang lebih murah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengendara yang mencari alternatif tanpa mengorbankan nilai oktan standar, meskipun tidak disertai klaim teknologi aditif secanggih merek premium lainnya.
Perbedaan harga antarjaringan tersebut memberikan ruang bagi konsumen untuk memilih bahan bakar berdasarkan kebutuhan kendaraan, anggaran, serta preferensi terhadap teknologi tambahan yang ditawarkan. Pemerintah melalui Kementerian ESDM masih memantau secara ketat agar penyesuaian harga BBM non-subsidi tetap berada dalam rentang wajar dan tidak memberatkan inflasi. Bagi pemilik kendaraan, penting untuk tidak hanya melihat harga nominal, tetapi juga mempertimbangkan kualitas pembakaran dan rekomendasi pabrikan agar mesin tetap awet dan konsumsi bahan bakar tetap optimal. Dengan pembaruan harga per 13 Juli 2026 ini, perencanaan perjalanan dan logistik sebaiknya sudah mengacu pada angka terbaru untuk menghindari biaya tak terduga.
Baca juga:
Comments (0)