Gus Baha Peringatkan Bahaya Memiliki Khodam Jin, Singgung Kisah Nabi Sulaiman
JAKARTA, TERDEPAN.ID – Fenomena khodam jin kembali mengemuka di tengah masyarakat, terutama setelah maraknya konten media sosial yang menawarkan jasa “peng
JAKARTA, TERDEPAN.ID – Fenomena khodam jin kembali mengemuka di tengah masyarakat, terutama setelah maraknya konten media sosial yang menawarkan jasa “pengisian khodam” dengan iming-iming kekuatan gaib, kekayaan, atau penglarisan. Menanggapi hal itu, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha memberikan peringatan tegas: memelihara jin sebagai pendamping adalah praktik yang sangat berbahaya, tidak hanya mengancam akidah tetapi juga berpotensi merusak kesehatan mental.
Dalam berbagai kesempatan, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA Rembang ini selalu menekankan pentingnya menjaga tauhid. Menurutnya, ketergantungan pada jin hanya akan menjerumuskan manusia ke dalam lembah kemusyrikan yang halus.
Sosok Ulama yang Bersahaja
Gus Baha dikenal sebagai ulama muda yang mendalam ilmunya, terutama dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Murid kesayangan KH. Maimun Zubair ini memiliki gaya ceramah yang khas—ringan namun penuh makna. Tak jarang, beliau menyelipkan humor segar untuk menyampaikan pesan-pesan serius. Karena itu, nasihat-nasihatnya mudah diterima berbagai kalangan.
Maraknya Tren Khodam di Era Digital
Di media sosial, istilah “khodam” sering dikemas dengan narasi romantis atau mistis. Banyak konten kreator yang mengaku bisa “menarik” khodam leluhur, khodam pendamping, hingga khodam macan putih. Praktik ini, menurut Gus Baha, adalah penyesatan berbahaya yang dibalut kemasan modern.
“Zaman sekarang banyak yang mengaku punya khodam, padahal yang terjadi justru sebaliknya: jin yang memiliki mereka. Karena jin itu makhluk yang suka menipu, pura-pura baik di awal, tetapi ujungnya menuntut sesuatu,” tegas Gus Baha dalam salah satu pengajiannya.
Ia menjelaskan, jin adalah makhluk yang memiliki nafsu dan kehendak seperti manusia. Ketika manusia menjalin hubungan “kerjasama” dengan jin, sejatinya terjadi transaksi yang timpang. Jin akan memberikan bantuan dengan syarat tertentu yang seringkali bertentangan dengan syariat, seperti menyembah selain Allah atau melakukan ritual-ritual aneh.
Kisah Nabi Sulaiman: Pelajaran Berharga
Untuk memperkuat peringatannya, Gus Baha menyinggung kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Nabi yang diberi mukjizat bisa menundukkan seluruh makhluk—termasuk jin dan angin—ternyata tidak luput dari tipu daya setan. Al-Qur’an mencatat, ketika Nabi Sulaiman wafat dalam keadaan bersandar pada tongkatnya, para jin yang sedang bekerja untuk membangun Baitul Maqdis tidak menyadari kematiannya hingga tongkat itu dimakan rayap dan tubuh beliau tersungkur. Kisah ini diabadikan dalam Surat Saba’ ayat 14.
“Nabi Sulaiman saja yang bisa memerintah jin, setelah wafat jin tetap bekerja karena mengira beliau masih hidup. Itu bukti bahwa jin bisa menipu persepsi manusia. Lha kita yang bukan nabi, bukan wali, kok berani-beraninya percaya pada jin? Justru kita yang akan dikendalikan jin,” papar Gus Baha dengan logat Jawanya yang khas.
Hikmah dari kisah tersebut sangat jelas: manusia yang memiliki kuasa atas jin sekalipun, pada akhirnya tetap akan meninggalkan dunia dan tidak bisa mengandalkan bantuan makhluk halus tersebut. Jin hanyalah makhluk yang akan terus mencari celah untuk menyesatkan.
Bahaya Akidah: Syirik Terselubung
Gus Baha menekankan bahwa inti dari praktik per-khodam-an adalah syirik khafi (syirik tersembunyi). Ketika seseorang meyakini bahwa jin bisa memberi manfaat atau mudarat secara independen, maka keimanannya kepada Allah bisa luntur. Padahal, Al-Qur’an dengan tegas menyatakan: “Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menimpakan mudarat atau memberi manfaat kepadamu selain Allah” (QS. Yunus: 106-107).
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa jin yang dijadikan khodam akan selalu menuntut balasan. Misalnya, sang pemilik diminta melakukan ritual khusus, menjauhi ibadah tertentu, atau bahkan mengorbankan sesuatu yang bersifat syirik. Awalnya mungkin ringan, tetapi lama-lama akan semakin memberatkan dan menjauhkan seseorang dari Allah.
Dampak Psikologis dan Sosial
Selain merusak akidah, ketergantungan pada khodam juga berdampak pada kesehatan mental. Banyak kasus di mana orang yang mengaku memiliki pendamping jin justru mengalami gangguan kejiwaan: menjadi paranoid, sering mendengar bisikan-bisikan, merasa diikuti, hingga depresi berat ketika khodamnya “pergi”.
Dari sisi sosial, praktik ini juga merusak tatanan masyarakat. Sebab, mereka yang terlena dengan khodam seringkali menjadi sombong, merasa lebih sakti, dan meremehkan orang lain. Hal ini bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan tawadhu’ dan tawakal kepada Allah semata.
Apa yang Harus Dilakukan?
Sebagai penutup, Gus Baha selalu mengajak umat Islam untuk kembali kepada perlindungan yang hakiki: Al-Qur’an dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah. Membaca Ayat Kursi, surat Al-Falaq, An-Nas, dan memperbanyak dzikir adalah benteng terkuat dari gangguan jin.
“Daripada sibuk cari khodam, mending sibuk tahajud. Yang bisa ngasih kekayaan, kesehatan, keselamatan itu Allah, bukan jin. Jin itu makhluk pelit, minta ini-itu, tapi hasilnya nihil. Tobat, jauhi hal-hal kayak gitu,” pesannya.
Dengan viralnya konten-konten khodam, diharapkan peringatan dari ulama seperti Gus Baha bisa menjadi tamparan keras bagi masyarakat agar tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu iblis dan setan yang seringkali menjelma dalam bentuk “spiritualitas modern”. Akidah adalah fondasi utama kehidupan seorang muslim; jangan sampai dikorbankan hanya demi sensasi dan kepentingan duniawi yang semu.
[SOCIAL_TWEET]: Gus Baha ingatkan bahaya memelihara khodam jin. Kisah Nabi Sulaiman jadi pelajaran: jin hanya menipu dan membawa pada kesyirikan. Jangan tertipu! #GusBaha #KhodamJin #Akidah #IslamNusantara[SOCIAL_TG]: ⚠️ *Gus Baha Peringatkan Bahaya Khodam Jin!* 🔥 Jangan sampai tertipu rayuan jin yang katanya bisa memberi kekayaan dan kekuatan. Dari kisah Nabi Sulaiman, kita belajar bahwa jin itu licik dan hanya akan menjerumuskan manusia pada kesyirikan. Yuk, perkuat iman! 📿
Comments (0)