Garis Keras Iran Tuding Pezeshkian Cs Susun Rencana Kudeta
Suasana duka di tengah upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mendadak berubah menjadi arena kemarahan pada Rabu sore waktu setempat. Massa dari kelompok garis keras...
Suasana duka di tengah upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mendadak berubah menjadi arena kemarahan pada Rabu sore waktu setempat. Massa dari kelompok garis keras dilaporkan meluapkan amarahnya secara terbuka kepada sejumlah pejabat pemerintahan Teheran yang hadir di lokasi. Teriakan keras yang menuduh Presiden Masoud Pezeshkian beserta para pembantunya merencanakan kudeta mewarnai prosesi penghormatan terakhir bagi tokoh paling berpengaruh dalam hierarki politik dan keagamaan negara itu.
Insiden ini menandai babak baru dalam perseteruan politik di Iran pasca-kematian Khamenei, yang telah memimpin Republik Islam selama lebih dari tiga dekade. Para demonstran, yang diyakini berasal dari faksi ultra-konservatif, tidak hanya melontarkan kecaman verbal, tetapi juga berusaha mendekati dan mengintimidasi sejumlah menteri serta penasihat dekat presiden yang tengah bersiap mengikuti rangkaian doa. Kejadian ini menunjukkan betapa dalamnya jurang politik antara kubu reformis yang dimotori Pezeshkian dan aliansi garis keras yang selama ini mendominasi lembaga-lembaga kekuasaan.
Letupan di Tengah Duka Nasional
Menurut saksi mata, kericuhan bermula ketika barisan pejabat eksekutif memasuki area utama tempat jenazah Khamenei disemayamkan. Sekelompok pria berpakaian serba hitam tiba-tiba merangsek maju sambil meneriakkan slogan-slogan yang menyebut Pezeshkian sebagai pengkhianat yang akan melemahkan fondasi Velayat-e Faqih—sistem pemerintahan berbasis wali fakih. Beberapa di antaranya membawa poster bertuliskan "Reformis adalah boneka musuh" dan "Jangan biarkan pengkhianat merebut kekuasaan".
Aparat keamanan yang berjaga segera membentuk barikade dan memisahkan kedua kubu. Meskipun tidak ada laporan korban luka serius, bentrokan ringan sempat terjadi antara pengawal presiden dan demonstran yang mencoba menerobos pagar pengamanan. Insiden ini memaksa penundaan beberapa segmen prosesi hingga situasi benar-benar terkendali. Seorang jurnalis yang meliput acara tersebut menggambarkan suasana sebagai "perpaduan antara kemarahan dan ketakutan yang belum pernah terlihat dalam upacara kenegaraan sekaliber ini".
Akar Tuduhan dan Rivalitas Bersejarah
Tudingan kudeta yang dilontarkan bukan sekadar ekspresi spontan dari kekecewaan sesaat. Selama berbulan-bulan, media-media yang berafiliasi dengan Garda Revolusi dan lingkaran konservatif telah gencar menyebarkan narasi bahwa pemerintah Pezeshkian tengah merancang perebutan kekuasaan secara inkonstitusional. Isu ini semakin menghangat ketika presiden mendorong serangkaian reformasi di bidang ekonomi dan sosial yang dianggap menggerogoti prinsip-prinsip revolusi 1979.
Salah satu pemicunya adalah upaya kabinet untuk membuka kembali negosiasi dengan Barat, termasuk pembicaraan tentang aktivitas nuklir dan pencabutan sanksi. Bagi kubu garis keras, langkah tersebut identik dengan upaya menyerahkan kedaulatan Iran kepada pihak asing—sebuah bentuk "kudeta lunak" yang akan menghancurkan kemandirian negara. Di sisi lain, pendukung presiden menuduh kelompok konservatif sengaja menciptakan kekacauan untuk menggagalkan proses transisi kepemimpinan yang sedang dinegosiasikan oleh Dewan Ahli.
Seorang analis politik dari Universitas Teheran yang enggan disebutkan namanya menjelaskan, "Yang kita saksikan adalah pertarungan perebutan narasi pasca-Khamenei. Masing-masing kubu ingin menentukan arah baru negara, dan kematian pemimpin tertinggi membuka kotak pandora yang telah lama tertutup."
Respons Pemerintah dan Bayang-bayang Ketidakpastian
Juru bicara kepresidenan segera merespons insiden tersebut dengan pernyataan tegas yang menyebut tuduhan kudeta sebagai fitnah berbahaya yang bertujuan memecah belah rakyat. Pemerintah menegaskan bahwa Pezeshkian tetap tunduk pada konstitusi dan menjunjung tinggi otoritas spiritual pemimpin tertinggi berikutnya, siapa pun yang kelak terpilih. Kantor presiden juga mengimbau agar semua pihak menahan diri dan tidak memanfaatkan situasi berkabung untuk kepentingan politik sempit.
Meski demikian, serangan terbuka di depan jenazah Khamenei ini tetap menimbulkan pertanyaan serius tentang stabilitas Iran dalam beberapa pekan mendatang. Dengan posisi pemimpin tertinggi yang masih kosong dan Dewan Ahli belum mencapai konsensus final, siapa pun yang menjadi penerus akan mewarisi negara yang terbelah antara kelompok reformis yang mendambakan keterbukaan dan kubu konservatif yang ingin mempertahankan status quo revolusioner.
Pengamat Timur Tengah menilai bahwa insiden ini bisa menjadi preseden buruk. Jika kekerasan politik mulai dinormalisasi dalam momen-momen sakral seperti pemakaman tokoh besar, maka potensi konflik terbuka setelah penunjukan pemimpin baru akan semakin besar. "Iran sedang berada di persimpangan paling berbahaya dalam tiga puluh tahun terakhir," komentar seorang diplomat senior Eropa yang memantau situasi secara langsung.
Di tengah ketegangan yang belum mereda, publik internasional kini menanti langkah selanjutnya dari faksi-faksi yang bertikai, sementara rakyat Iran masih berduka atas kepergian tokoh yang telah menentukan bentuk negara mereka selama satu generasi.
Comments (0)