Fenomena Cahaya Terang di Langit Jakarta-Jogja, Pakar Ungkap Asal-usulnya

Rekaman video yang beredar luas di media sosial menampilkan seberkas cahaya terang melesat di atas kawasan jalan tol lingkar luar Jakarta (JORR) pada malam hari. Dalam sekejap, benda langit itu menjad...

Fenomena Cahaya Terang di Langit Jakarta-Jogja, Pakar Ungkap Asal-usulnya

Rekaman video yang beredar luas di media sosial menampilkan seberkas cahaya terang melesat di atas kawasan jalan tol lingkar luar Jakarta (JORR) pada malam hari. Dalam sekejap, benda langit itu menjadi buah bibir warganet, dengan spekulasi mulai dari meteor jatuh, sampah antariksa, hingga isyarat kosmis. Namun, peneliti astronomi segera memberikan klarifikasi ilmiah untuk meredam rumor yang beredar.

Fenomena serupa ternyata tidak hanya terlihat di ibu kota. Warga di sejumlah titik di Daerah Istimewa Yogyakarta juga melaporkan penampakan kilatan cahaya yang bergerak cepat di langit. Beberapa mengabadikannya dengan kamera ponsel, lalu mengunggahnya ke platform digital. Kesamaan waktu dan deskripsi memperkuat dugaan bahwa apa yang melintas itu adalah satu objek yang sama, melintasi langit Pulau Jawa dari arah barat ke timur.

Api di Atas Langit Malam

Para saksi mata menggambarkan kilau itu seperti bola api berekor pendek dengan warna dominan putih kebiruan. Ia tampak begitu dekat, seolah menyentuh atap gedung, padahal jarak sebenarnya berada puluhan kilometer di atmosfer atas. Kesan optik semacam ini kerap mengecoh, terutama ketika objek melintas dalam sudut pandang yang rendah di cakrawala perkotaan yang dipenuhi pencahayaan buatan.

Video paling ramai menunjukkan latar lalu lintas JORR yang padat, dengan kendaraan yang melaju tanpa gangguan berarti. Justru pengemudi yang merekam dari dalam mobilnya yang terlihat terkejut. “Itu apa? Meteor!” terdengar suara dari balik kamera, sebelum akhirnya video berakhir dengan objek yang menghilang di balik gedung.

Klarifikasi dari Balik Lensa Teleskop

Thomas Djamaluddin, profesor riset astronomi dan astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa rekaman viral itu hampir pasti merekam peristiwa fireball—meteor dengan kecerahan yang melampaui planet Venus. “Material antariksa berupa batuan atau serpihan komet memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan puluhan kilometer per detik. Gesekan ekstrem dengan molekul udara menciptakan panas ribuan derajat, mengionisasi gas di sekitarnya, dan menghasilkan pijar yang kita lihat sebagai bola api,” ujarnya.

Ia menambahkan, ukuran asli benda itu mungkin hanya sebesar kerikil hingga bola sepak, namun energinya setara ledakan kecil. Sebagian besar meteor habis terbakar di atmosfer dan tidak pernah mencapai permukaan. Jika ada sisa yang jatuh, barulah disebut meteorit. Jarang sekali batu antarplanet itu mendarat di kawasan padat penduduk seperti Jakarta.

Para astronom amatir dari komunitas langit Indonesia (Langit Selatan) turut melakukan triangulasi dari video yang tersebar. Berdasarkan perkiraan awal, lintasan objek membentang dari arah barat laut menuju tenggara, melintasi beberapa wilayah sebelum akhirnya padam di atas perairan atau pegunungan selatan Yogyakarta. Ini menjelaskan mengapa penduduk di dua kota besar itu bisa menyaksikan fenomena yang sama dalam selang waktu singkat.

Bukan Tanda Bahaya, Tapi Keindahan Kosmis

Peneliti menegaskan bahwa peristiwa semacam ini nyaris mustahil diprediksi secara spesifik. Meteor kecil sangat melimpah dan terus-menerus membombardir Bumi setiap harinya—sekitar 40 ton material kosmis memasuki atmosfer dalam 24 jam. Hanya saja, sebagian besar terbakar tanpa saksi karena terjadi di siang hari, di atas lautan, atau di daerah minim populasi.

Penampakan spektakuler seperti di JORR dan Yogyakarta menjadi viral justru karena jarang terekam kamera dalam kualitas jernih dan terjadi di wilayah urban. “Ini momentum edukasi publik yang berharga. Orang jadi bertanya, lalu mencari tahu fakta astronomi. Itu lebih sehat daripada berasumsi soal UFO atau pertanda kiamat,” kata Djamaluddin.

BRIN mengimbau masyarakat yang menemukan batu mencurigakan pasca-fenomena untuk tidak sembarangan memegang atau memindahkannya tanpa dokumentasi lokasi. Meski kecil kemungkinannya, setiap temuan meteorit berpotensi menjadi data ilmiah berharga yang bisa mengungkap sejarah tata surya.

Fenomena langit seperti ini sekaligus menjadi pengingat betapa dinamisnya lingkungan kosmis kita. Di balik hiruk-pikuk jalan tol dan gemerlap kota, langit terus menari dengan partikel sisa pembentukan planet miliaran tahun lalu. Dan berkat genggaman ponsel pintar, kini tarian itu bisa disaksikan oleh jutaan pasang mata dalam satu ketukan jempol.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User