Exit Strategy Startup: Akuisisi Dominan, IPO Makin Terbatas di 2026

Jakarta, terdepan.id – Lanskap exit strategy bagi startup di Indonesia tengah bergeser signifikan. Jika beberapa tahun lalu pencatatan saham perdana (IPO) menjadi target prestisius, kini akuisisi kian

Exit Strategy Startup: Akuisisi Dominan, IPO Makin Terbatas di 2026

Jakarta, terdepan.id – Lanskap exit strategy bagi startup di Indonesia tengah bergeser signifikan. Jika beberapa tahun lalu pencatatan saham perdana (IPO) menjadi target prestisius, kini akuisisi kian mendominasi sebagai jalur keluar pilihan para founder. Data terbaru menunjukkan bahwa ketatnya persyaratan pasar modal dan preferensi investor terhadap pengembalian cepat membuat rute akuisisi semakin primadona.

Kondisi Pasar IPO yang Menantang

Melesatnya valuasi startup tidak serta-merta memuluskan langkah mereka ke bursa saham. Sepanjang 2025, hanya tiga startup teknologi yang tercatat melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), merosot dari tujuh pencatatan pada 2023. Penurunan ini mencerminkan realitas pahit: syarat profitabilitas yang diperketat otoritas bursa serta volatilitas pasar global membuat banyak emiten potensial menunda rencana IPO. Survei internal Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo) mencatat, dari 120 startup portofolio yang disurvei pada kuartal pertama 2026, hanya 18% yang menyatakan siap melakukan IPO dalam dua tahun ke depan.

Akuisisi sebagai Jalur Alternatif yang Menjanjikan

Di sisi lain, akuisisi justru menunjukkan tren pertumbuhan yang solid. Data dari platform riset Tracxn menunjukkan bahwa sepanjang 2025, terdapat 34 transaksi akuisisi startup di Indonesia—naik 26% dari tahun sebelumnya. Mayoritas akuisisi dilakukan oleh perusahaan teknologi mapan dan konglomerasi yang ingin memperkuat lini bisnis digital. Sektor fintech dan healthtech menjadi yang paling banyak diakuisisi, masing-masing menyumbang 35% dan 22% dari total transaksi. Angka ini diperkuat oleh laporan DSInnovate yang mengungkapkan bahwa 47% founder startup Indonesia kini menargetkan akuisisi sebagai preferensi exit strategy utama, mengungguli IPO yang hanya dipilih oleh 29% responden.

Pertimbangan Founder dan Investor

Pergeseran ini bukan tanpa alasan. Dari sisi founder, akuisisi menawarkan proses yang lebih cepat dengan risiko regulasi yang lebih rendah. Sebaliknya, IPO menuntut transparansi tinggi, beban kepatuhan berkelanjutan, serta ancaman volatilitas harga saham yang dapat menggerus kepercayaan publik. Sementara itu, dari kacamata venture capital, akuisisi memberikan waktu pengembalian (exit timing) yang lebih fleksibel—rata-rata 4,2 tahun dibandingkan IPO yang membutuhkan 6,8 tahun sejak pendanaan awal, menurut data tahun 2025 dari PitchBook. "Kami melihat adanya perubahan preferensi yang cukup tajam di kalangan LP (limited partner). Mereka lebih menghargai kepastian likuiditas dalam jangka pendek hingga menengah," ujar ekonom senior dari Lembaga Penelitian Ekonomi Digital.

Kendati demikian, para analis mengingatkan bahwa pilihan exit strategy tetap bergantung pada skala bisnis, kematangan model bisnis, dan tujuan jangka panjang founder. Akuisisi memang memberikan kepastian lebih cepat, tetapi IPO masih menjadi jalan bagi startup yang ingin mempertahankan independensi dan membangun brand korporasi publik secara berkelanjutan. Walau begitu, tren angka menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, rute akuisisi akan tetap mendominasi peta exit strategy startup Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User