Empat Teknologi Indonesia yang Diadopsi Dunia, dari Sosrobahu hingga QRIS

Bagi banyak orang, kata "teknologi" hampir selalu dikaitkan dengan Silicon Valley, gudang inovasi di Amerika Serikat, atau raksasa industri dari Tiongkok. Ibarat menonton film laga yang selalu dibinta...

Empat Teknologi Indonesia yang Diadopsi Dunia, dari Sosrobahu hingga QRIS

Bagi banyak orang, kata "teknologi" hampir selalu dikaitkan dengan Silicon Valley, gudang inovasi di Amerika Serikat, atau raksasa industri dari Tiongkok. Ibarat menonton film laga yang selalu dibintangi aktor asing, kita jarang menyadari bahwa di rumah sendiri ada bintang yang sedang tampil tanpa sorotan kamera. Di balik derasnya pemberitaan tentang impor gawai dan perangkat keras, ada sederet inovasi buatan Indonesia yang justru diadopsi dan dipakai di luar negeri: dari teknik membangun jalan layang, pesawat terbang, sistem peringatan dini tsunami, hingga standar pembayaran digital. Keempatnya membuktikan bahwa kemampuan riset dan pengembangan (R&D) anak bangsa tidak kalah dari negara maju.

1. Sosrobahu: Jalan Layang Tanpa Menutup Jalan

Sosrobahu adalah teknik konstruksi jalan layang yang dikembangkan oleh Ir. Tjokorda Raka Sukawati pada 1989. Ibarat menyusun balok di tengah meja lalu memutarnya tanpa harus mengosongkan meja, metode ini memungkinkan segmen beton jembatan dicetak di atas median jalan, kemudian diputar 90 derajat menggunakan alat hidrolik, dan dipasang di atas pilar. Hasilnya, arus lalu lintas di bawahnya tidak perlu dihentikan total selama pembangunan. Efisiensi inilah yang membuat teknologi ini dilirik mancanegara: segmen beton seberat hingga 500 ton dapat diputar hanya dalam hitungan menit, sebuah angka yang membuat proses konstruksi jauh lebih cepat dan hemat biaya.

Setelah terbukti di sejumlah proyek jalan layang di Jakarta, teknik ini sempat diterapkan dalam proyek-proyek serupa di Malaysia dan Singapura. Nama Sosrobahu pun tercatat sebagai salah satu paten teknik sipil asal Indonesia yang diakui dunia internasional.

2. CN235: Pesawat yang Terbang di Langit Banyak Negara

Jika berbicara soal pesawat buatan dalam negeri, CN235 adalah jawaban paling nyata. Pesawat ini merupakan hasil kerja sama antara pabrikan Indonesia, PT Dirgantara Indonesia (kala itu IPTN), dengan CASA asal Spanyol. Terbang perdana pada 1983 dan mulai beroperasi pada 1988, CN235 dirancang sebagai pesawat angkut serbaguna yang mampu mendarat di landasan pendek dan kasar, sehingga sangat cocok untuk wilayah kepulauan. Dengan kapasitas hingga 45 penumpang, ratusan unit CN235 telah dikirim ke berbagai negara, mulai dari Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan di Asia, hingga Yordania, Uni Emirat Arab, serta sejumlah negara di Afrika dan Amerika Latin.

Keberhasilan CN235 membuktikan bahwa industri dirgantara Indonesia mampu masuk ke rantai pasok global. Penerusnya, CN295, bahkan diproduksi untuk pasar internasional bersama Airbus. Ini adalah contoh nyata deep tech yang lahir dari ekosistem riset lokal.

3. InaTEWS: Peringatan Dini yang Menjadi Rujukan Kawasan

Tsunami Samudra Hindia 2004 menjadi pelajaran pahit sekaligus titik balik. Setahun kemudian, Indonesia membangun InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), sistem peringatan dini tsunami yang dikembangkan bersama sejumlah lembaga riset Jerman. Dioperasikan oleh BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), sistem ini menggabungkan sensor gempa, pelampung laut dalam, dan jaringan komunikasi untuk mengirim peringatan dalam hitungan menit setelah gempa terjadi. BMKG menargetkan peringatan dapat dikeluarkan kurang dari lima menit, jauh lebih cepat dibanding era sebelum 2004 yang bisa memakan puluhan menit.

Keandalan sistem ini menjadikan Indonesia rujukan bagi negara-negara lain. Sejumlah negara di Asia Tenggara dan kawasan Samudra Hindia membangun sistem serupa dengan pendekatan teknis yang diadopsi dari pengalaman Indonesia, dan BMKG kerap menjadi tempat pelatihan bagi para ahli dari luar negeri. Pengembangan terbarunya bahkan mulai memanfaatkan machine learning untuk mempercepat analisis data gempa.

4. QRIS: Standar Pembayaran yang Diekspor

Di ranah digital, Indonesia punya QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), standar kode QR untuk pembayaran yang diluncurkan Bank Indonesia pada 17 Agustus 2019. Sebelum QRIS, setiap aplikasi pembayaran punya kode QR sendiri-sendiri, membuat para pedagang harus memasang banyak stiker di lapaknya. QRIS menyatukan semuanya dalam satu standar, sebuah lompatan efisiensi bagi UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah).

Yang lebih menarik, standar ini kini melampaui batas negara. Melalui kerja sama lintas batas, wisatawan Indonesia sudah bisa membayar dengan QRIS di Thailand, Malaysia, Singapura, hingga Jepang. Sebaliknya, turis asing pun dapat menggunakan aplikasi pembayaran mereka di Indonesia. Keberhasilan ini menjadikan QRIS contoh interoperabilitas yang kerap dijadikan bahan belajar bank sentral negara lain.

TeknologiSektorJejak Adopsi di Luar Negeri
SosrobahuKonstruksiMalaysia, Singapura
CN235DirgantaraAsia, Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin
InaTEWSKebencanaanMenjadi rujukan sistem peringatan dini kawasan
QRISPembayaran digitalThailand, Malaysia, Singapura, Jepang
"Inovasi tidak mengenal batas negara. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian menguji, plus kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah," ujar seorang pengamat teknologi digital di Jakarta.

Kisah keempat teknologi ini mengajarkan satu hal: potensi inovasi Indonesia tidak boleh diremehkan. Dukungan yang dibutuhkan tidak melulu soal anggaran riset, tetapi juga kemauan untuk menguji karya sendiri, memperkuat perlindungan paten, dan membangun ekosistem yang menghubungkan kampus, industri, serta pemerintah. Jika konsisten, bukan tidak mungkin lebih banyak karya anak bangsa yang tampil di panggung dunia — bukan hanya sebagai pemakai teknologi, melainkan sebagai penciptanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User