Duel Mantan Sekutu: Netanyahu vs Eisenkot di Pemilu Israel

Panggung politik Israel akan menyaksikan salah satu pertarungan paling dramatis dalam sejarahnya ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dipastikan berhadapan dengan mantan sekutu dekat sekaligus ek...

Duel Mantan Sekutu: Netanyahu vs Eisenkot di Pemilu Israel

Panggung politik Israel akan menyaksikan salah satu pertarungan paling dramatis dalam sejarahnya ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dipastikan berhadapan dengan mantan sekutu dekat sekaligus eks kepala militer, Gadi Eisenkot, dalam pemilu yang dijadwalkan pada Oktober mendatang. Konfrontasi ini bukan sekadar persaingan memperebutkan kursi kekuasaan, melainkan benturan dua visi berbeda tentang masa depan negara dan pertaruhan atas warisan politik seorang pemimpin terlama Israel. Netanyahu, yang kini berusia 74 tahun, tengah berada di bawah tekanan besar akibat gelombang protes reformasi yudisial, kasus hukum yang masih bergulir, dan fragmentasi di kubu sayap kanan.

Medan Tempur yang Berubah Total

Netanyahu memasuki arena pemilu dengan beban yang belum pernah ia tanggung sebelumnya. Di satu sisi, basis pendukung tradisionalnya dari kalangan Likud dan aliansi partai-partai religius-nasionalis masih cukup loyal. Namun di sisi lain, gerakan massa yang menolak keras rencana perubahan sistem Mahkamah Agung terus menggerus elektabilitas koalisinya. Jajak pendapat yang dilakukan lembaga survei Israel pada awal tahun menunjukkan bahwa blok pro-Netanyahu kesulitan menembus angka 60 kursi — jauh dari ambang batas 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan mayoritas di Knesset yang berjumlah 120 kursi.

Yang membuat situasi semakin pelik bagi Netanyahu adalah kenyataan bahwa ia harus menghadapi lawan yang memahami betul seluk-beluk kebijakan pertahanan dan keamanan. Gadi Eisenkot bukan pendatang baru yang bisa dipandang sebelah mata; ia adalah mantan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang menjabat dari 2015 hingga 2019, masa yang penuh gejolak dengan meningkatnya ketegangan di perbatasan utara melawan Hizbullah dan ancaman proksi Iran di Suriah. Pengalaman itu memberinya legitimasi kuat di mata publik yang sangat peduli pada isu keamanan — isu yang selama ini menjadi andalan kampanye Netanyahu.

Gadi Eisenkot: Sekutu Lama yang Berubah Haluan

Hubungan Eisenkot dengan Netanyahu sempat dikategorikan sebagai aliansi profesional yang solid. Selama bertahun-tahun, Eisenkot secara loyal menjalankan perintah kabinet keamanan yang dipimpin Netanyahu, termasuk dalam operasi rahasia di luar perbatasan. Namun nada kritik mulai terdengar setelah ia pensiun dari dinas militer. Dalam sebuah wawancara yang menghebohkan, Eisenkot menyebut bahwa Israel membutuhkan “kepemimpinan yang berdiri di atas fondasi kejujuran dan tanggung jawab moral”, sebuah sindiran yang diyakini luas ditujukan langsung kepada Netanyahu yang tengah berkutat dengan tiga dakwaan korupsi.

Kini Eisenkot tidak sendirian. Ia bergabung dengan kubu sentris yang menolak polarisasi ekstrem dan mengusung platform yang menekankan penguatan rule of law, persatuan nasional, serta pendekatan keamanan yang lebih terukur. Langkah ini merepresentasikan ancaman nyata bagi Netanyahu karena mampu merebut pemilih moderat dari sayap kanan tradisional yang mulai lelah dengan gejolak internal. Pengamat politik Israel dari Hebrew University, meski belum berani menyebut angka pasti, menilai kehadiran Eisenkot sebagai “faktor disrupsi yang bisa mengubah peta koalisi secara fundamental”.

Eisenkot juga dipandang lebih pragmatis dalam menangani isu Palestina. Ia tidak menutup kemungkinan solusi dua negara sebagai hasil akhir dari proses politik, meskipun dengan syarat keamanan yang ketat — sebuah posisi yang kontras dengan narasi ekspansi pemukiman yang diusung sayap kanan. Hal ini menjadikannya tokoh yang lebih bisa diterima oleh komunitas internasional, terutama di tengah hubungan Israel yang semakin rumit dengan sekutu tradisionalnya, termasuk Amerika Serikat.

Dampak Potensial Bagi Stabilitas dan Koalisi

Pemilu Oktober bukan sekadar perlombaan elektoral biasa; ia digelar dalam bayang-bayang krisis multidimensi. Israel masih bergulat dengan lonjakan inflasi, pemogokan massal, dan ketegangan keamanan di Tepi Barat. Di internal, pertarungan antara pendukung supremasi parlemen dan para pembela independensi yudikatif telah memecah masyarakat lebih dalam daripada konflik sebelumnya. Sejumlah petinggi militer bahkan telah memperingatkan bahwa perpecahan ini mulai berdampak pada kesiapan tempur IDF.

Dalam konteks inilah duel Netanyahu-Eisenkot menjadi penentu arah. Jika Netanyahu mampu mempertahankan koalisinya, ia akan melanjutkan agenda reformasi yudisial yang kontroversial dan berpotensi memperkuat cengkeraman eksekutif terhadap lembaga-lembaga negara. Sebaliknya, jika Eisenkot dan aliansi sentris-nya berhasil memimpin pemerintahan baru, kemungkinan besar akan terjadi pembekuan atau bahkan pembalikan sebagian besar agenda legislatif tersebut.

Belum lagi soal dampak diplomatik. Kawasan Timur Tengah sedang dalam proses normalisasi yang dinamis, dari Abraham Accords hingga upaya perluasan kerja sama dengan Arab Saudi. Pergeseran kepemimpinan di Israel bisa mempengaruhi laju dan bentuk normalisasi ini. Eisenkot, dengan pendekatannya yang lebih hati-hati terhadap ekspansi permukiman, mungkin akan lebih fleksibel dalam menerima tekanan diplomatik global, sementara Netanyahu cenderung mengutamakan kedaulatan tanpa kompromi.

Meski kampanye resmi belum dimulai, suhu politik sudah terasa panas. Para analis memperkirakan bahwa pertarungan akan berpusat pada siapa yang lebih dipercaya untuk menjaga keamanan nasional sambil memulihkan kohesi sosial. Bagi banyak warga Israel, ini adalah momen kejenuhan. Mereka tidak hanya memilih pemimpin, melainkan menentukan apakah demokrasi mereka akan bergerak menuju model yang lebih otoriter atau kembali ke tradisi checks and balances yang selama ini dijaga Mahkamah Agung.

Apa pun hasilnya, satu hal yang pasti: Oktober nanti akan menjadi penanda sejarah. Israel, yang selama lebih dari satu dekade terakhir hampir identik dengan figur Netanyahu, kini berada di ambang perubahan besar. Dan Gadi Eisenkot, mantan kepala militer yang dulunya bekerja dalam diam di balik layar, muncul sebagai simbol perlawanan yang dapat mengakhiri satu era dan membuka lembaran baru yang sama sekali berbeda bagi negara Zionis itu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User