Diplomat Rusia Ejek Wacana Trump Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS

Selat Hormuz bukan sekadar nama di peta. Lorong air sempit di antara Iran dan Oman ini adalah jalur tersibuk pengangkutan minyak dunia: setiap hari, sekitar seperlima kebutuhan minyak global melintas ...

Diplomat Rusia Ejek Wacana Trump Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS

Selat Hormuz bukan sekadar nama di peta. Lorong air sempit di antara Iran dan Oman ini adalah jalur tersibuk pengangkutan minyak dunia: setiap hari, sekitar seperlima kebutuhan minyak global melintas di sini. Karena itu, ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan wacana menjadikan Selat Hormuz sebagai “wilayah Amerika”, pernyataan itu langsung mengguncang panggung geopolitik. Yang membuat tensi semakin menarik, respons paling pedas justru datang dari Moskow. Wakil Rusia Mikhail Ulyanov mengolok-olok klaim tersebut dengan nada sinis, menyebutnya sebagai humor yang luar biasa — alih-alih ancaman serius, ia memperlakukannya seperti lelucon yang mustahil diimplementasikan.

Klaim Trump dan Sindiran Tajam Moskow

Dalam pernyataan yang belakangan menjadi perbincangan luas, Trump menegaskan AS akan mengambil kendali atas Selat Hormuz dan menjadikannya bagian dari wilayah Amerika. Ia membingkainya sebagai langkah untuk mengamankan jalur pelayaran internasional dari gangguan. Namun, bagi Moskow, pernyataan itu justru menjadi bahan sindiran yang sempurna. Ulyanov, yang menjabat sebagai perwakilan tetap Rusia untuk organisasi-organisasi internasional di Wina, menanggapi dengan ejekan terbuka. Ia menilai klaim tersebut tidak memiliki dasar dalam hukum internasional dan hanya layak ditertawakan, bukan ditanggapi serius.

Di balik nada humor itu, ada pesan politik yang jelas. Dengan mengolok-olok wacana Washington, Moskow ingin menampilkan AS sebagai pihak yang bertindak semaunya di panggung dunia, sementara Rusia dan sekutunya tampil sebagai penjaga tatanan yang rasional. Dalam diplomasi, sindiran semacam ini kerap digunakan sebagai alat untuk menguji keseriusan lawan sekaligus membangun citra. Bagi Moskow, pernyataan Trump adalah hadiah diplomatik yang datang di waktu yang tepat di tengah ketegangan yang sudah berlarut-larut.

Mengapa Dunia Menoleh ke Selat Hormuz

Untuk memahami mengapa satu kalimat presiden bisa memicu reaksi sekeras itu, kita perlu melihat angka-angkanya. Berdasarkan data lembaga energi internasional, sekitar 20 hingga 21 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz — setara dengan seperlima konsumsi minyak dunia. Jika dihitung dalam nilai uang, nilainya mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun. Belum lagi sekitar seperlima perdagangan LNG (liquefied natural gas, atau gas alam cair) global, yang sebagian besar berasal dari Qatar, juga melintasi jalur yang sama.

Geografinya pun unik. Pada titik tersempitnya, Selat Hormuz hanya selebar sekitar 33 kilometer — cukup sempit bagi kapal tanker raksasa untuk saling berpapasan, tetapi juga cukup sempit untuk diblokade oleh satu negara yang berniat buruk. Ibarat jalan tol utama dunia, jika gerbangnya ditutup, semua kendaraan — dalam hal ini kapal tanker — harus mencari jalan memutar yang jauh lebih panjang dan mahal. Jalur alternatif memang ada, seperti pipa East-West milik Arab Saudi yang mampu mengangkut sekitar 5 juta barel per hari menuju Laut Merah, atau pipa Habshan–Fujairah milik Uni Emirat Arab dengan kapasitas sekitar 1,5 juta barel per hari. Namun, keduanya tetap tidak cukup untuk menutup celah jika arus utama benar-benar terhenti.

Poros Moskow–Teheran dan Tekanan ke Washington

Respons Ulyanov juga tidak bisa dilepaskan dari hubungan erat Rusia dan Iran. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara semakin mesra, terutama di bidang energi dan kerja sama militer. Ketika Trump mengancam menguasai Selat Hormuz, Teheran secara historis memegang kartu untuk mengancam menutup jalur tersebut sebagai senjata tawar-menawar. Dengan membela posisi Iran secara tidak langsung, Moskow memperkuat porosnya sekaligus menekan Washington dari dua arah sekaligus: lewat retorika publik dan lewat solidaritas dengan Teheran.

Ada pula nuansa ironi yang tidak luput dari perhatian pengamat. AS kini justru menjadi salah satu pengekspor minyak dan gas terbesar dunia, sehingga ketergantungan langsung Washington terhadap Selat Hormuz jauh lebih kecil dibandingkan dua dekade lalu. Namun, pasar energi adalah ekosistem yang saling terhubung: gangguan di satu titik tetap akan mengguncang harga di seluruh dunia. Dalam kerangka hukum internasional, klaim sepihak atas perairan internasional juga hampir mustahil diakui, karena konvensi hukum laut menjamin hak lintas transit bagi kapal asing.

Dari Retorika ke Harga BBM di SPBU

Yang paling dirasakan masyarakat awam dari ketegangan ini bukanlah jargon diplomatik, melainkan harga energi. Jika wacana ini berlanjut menjadi aksi nyata — misalnya pengerahan armada militer besar-besaran — perusahaan asuransi akan menaikkan premi untuk kapal yang melintasi kawasan tersebut, tarif angkutan melonjak, dan kapal tanker akan memutar rute hingga ribuan kilometer lebih jauh. Semua biaya tambahan itu pada akhirnya jatuh ke harga bahan bakar di pompa bensin. Kenangan pahit masih segar: pada 2019, serangkaian insiden terhadap kapal tanker di sekitar Teluk sempat membuat harga minyak bergetar dalam hitungan hari.

Yang Perlu Diamati Selanjutnya

Pertanyaan besarnya kini adalah apakah pernyataan Trump hanya retorika belaka atau awal dari kebijakan nyata. Reaksi Moskow yang mengolok-olok justru memberi petunjuk bahwa Rusia menilai wacana itu tidak akan pernah dieksekusi — tetapi tetap berusaha memanfaatkannya untuk keuntungan politik. Yang perlu diamati selanjutnya adalah sikap Teheran, respons negara-negara Teluk yang selama ini bergantung pada jalur pelayaran tersebut, serta apakah Washington akan mengeluarkan pernyataan lanjutan yang lebih konkret. Selama jalur minyak paling vital di dunia ini masih menjadi rebutan, dunia akan terus menahan napas — dan setiap kata yang keluar dari para pemimpinnya akan selalu layak untuk disimak, entah serius atau sekadar humor.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User