Delapan Kandidat Bersaing Gantikan Guterres sebagai Sekretaris Jenderal PBB

Persaingan menuju kursi tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa memasuki babak baru. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pemungutan suara informal tahap

Delapan Kandidat Bersaing Gantikan Guterres sebagai Sekretaris Jenderal PBB

Persaingan menuju kursi tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa memasuki babak baru. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pemungutan suara informal tahap kedua pada Jumat pekan ini untuk mengukur popularitas para kandidat yang berambisi menggantikan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres. Guterres akan menyelesaikan masa jabatan keduanya yang berlangsung lima tahun pada akhir tahun ini, sekaligus menutup lebih dari satu dekade kepemimpinannya di organisasi internasional terbesar di dunia itu.

Sebanyak delapan kandidat kini bersaing memperebutkan posisi paling bergengsi di panggung diplomasi global tersebut. Mereka berlomba di tengah kondisi internal PBB yang terbelah dalam sejumlah isu besar, mulai dari reformasi Dewan Keamanan, konflik yang berkepanjangan, hingga ketegangan antara negara-negara besar yang kerap menghambat pengambilan keputusan kolektif.

Pemungutan suara informal, atau yang dikenal dengan istilah straw poll, adalah tahap awal dari proses panjang seleksi Sekretaris Jenderal. Meski tidak mengikat secara hukum, hasil jajak pendapat ini menjadi sinyal penting bagi para kandidat dan negara-negara anggota mengenai posisi mereka dalam persaingan.

Bagaimana Proses Seleksi Berlangsung

Proses pemilihan Sekretaris Jenderal PBB diatur dalam Piagam PBB dan dijalankan melalui kombinasi peran Dewan Keamanan dan Majelis Umum. Dewan Keamanan, yang terdiri dari lima anggota tetap dengan hak veto, memainkan peran dominan dalam menentukan calon yang direkomendasikan. Dalam straw poll, setiap anggota Dewan Keamanan memberikan penilaian "dorong", "jangan dorong", atau "tanpa pendapat" terhadap masing-masing kandidat. Hasilnya kemudian menjadi bahan pertimbangan sebelum Dewan merekomendasikan satu nama ke Majelis Umum untuk disahkan.

Penting dicatat bahwa hak veto lima anggota tetap—Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Prancis, dan Inggris—menjadi faktor penentu. Seorang kandidat bisa saja populer di kalangan mayoritas anggota, namun tersingkir jika salah satu dari lima negara besar itu menyalurkan veto. Inilah salah satu alasan mengapa proses seleksi Sekretaris Jenderal sering disebut sebagai permainan diplomasi tingkat tinggi.

Delapan Kandidat dan Latar Persaingan

Kedelapan kandidat yang bertarung berasal dari berbagai latar belakang, termasuk mantan pejabat tinggi pemerintahan, diplomat karier, dan tokoh-tokoh yang pernah memimpin lembaga internasional. Mereka membawa visi masing-masing tentang bagaimana PBB harus berbenah di tengah dunia yang semakin multipolar dan dipenuhi ketidakpastian.

Isu-isu utama yang mewarnai persaingan meliputi reformasi struktur PBB, penanganan krisis kemanusiaan, perubahan iklim, serta efektivitas PBB dalam meredam konflik. Banyak pihak menilai kandidat yang mampu merangkul negara-negara berkembang sambil menjaga dukungan negara-negara besar akan memiliki peluang terbesar.

"Sekretaris Jenderal berikutnya akan menghadapi PBB yang lebih terpecah dibandingkan era mana pun sejak Perang Dingin. Kemampuan menjembatani kepentingan yang saling bertentangan menjadi ujian utama," kata seorang diplomat senior yang telah lama mengikuti proses seleksi.

Jajak Pendapat Informal dan Tahapan Berikutnya

Straw poll pertama yang digelar sebelumnya memberikan gambaran awal peta persaingan, meski hasilnya dirahasiakan demi melindungi kandidat dari tekanan politik. Pada tahap kedua ini, para kandidat kembali diuji, dan hasilnya diperkirakan akan mulai mempersempit daftar peserta. Secara tradisional, kandidat yang konsisten memperoleh nilai buruk pada tahap awal biasanya menarik diri dari persaingan secara sukarela.

Proses ini biasanya berlangsung berbulan-bulan, dimulai dari pencalonan oleh negara anggota, presentasi visi di hadapan Majelis Umum, hingga serangkaian wawancara dan debat terbuka. Setelah Dewan Keamanan menemukan kandidat yang disepakati—yang idealnya tanpa veto—rekomendasi diajukan ke Majelis Umum untuk pemungutan suara formal sebagai penegasan akhir.

Apa yang Dipertaruhkan

Kursi Sekretaris Jenderal PBB bukan sekadar jabatan seremonial. Pemimpin organisasi ini memegang peran penting dalam diplomasi global: memimpin sekretariat, mengelola anggaran, memediasi konflik, hingga menyuarakan isu-isu kemanusiaan ke panggung dunia. Guterres, yang menjabat sejak 2017, dikenal dengan pendekatan diplomatisnya, namun masa jabatannya juga diwarnai kritik atas keterbatasan PBB dalam menghadapi sejumlah konflik besar dunia.

Dengan latar belakang ketegangan geopolitik yang memanas, Sekretaris Jenderal baru dituntut menjadi penyeimbang yang kredibel. Delapan kandidat kini mempertaruhkan karier dan reputasi mereka demi kursi yang oleh banyak pihak disebut sebagai "pekerjaan mustahil di dunia".

Kesimpulan

Pemungutan suara informal kedua pada Jumat ini akan menjadi tonggak penting dalam menentukan arah kepemimpinan PBB ke depan. Delapan kandidat bersaing di tengah organisasi yang terbelah, dengan proses seleksi yang rumit dan penuh kepentingan. Dunia akan menyaksikan apakah PBB mampu melahirkan pemimpin yang dapat menyatukan kembali organisasi yang kini tengah berhadapan dengan ujian terbesarnya sejak berdiri.

[SOCIAL_TWEET]: Delapan kandidat bersaing gantikan Guterres sebagai Sekjen PBB. Straw poll kedua digelar Jumat di tengah organisasi yang terbelah. #PBB[SOCIAL_TG]: Kursi paling bergengsi di dunia diplomasi sedang diperebutkan. Delapan kandidat, satu kursi, dan proses seleksi yang penuh kepentingan. Simak di Terdepan.id.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User