BNPB: Tiga Hambatan Utama yang Membuat Karhutla Sulit Dipadamkan

Musim kemarau selalu membawa kekhawatiran tersendiri bagi jutaan warga Indonesia. Asap tebal yang menyesakkan, sekolah yang terpaksa diliburkan, hingga lonjakan pasien infeksi saluran pernapasan akut ...

BNPB: Tiga Hambatan Utama yang Membuat Karhutla Sulit Dipadamkan

Musim kemarau selalu membawa kekhawatiran tersendiri bagi jutaan warga Indonesia. Asap tebal yang menyesakkan, sekolah yang terpaksa diliburkan, hingga lonjakan pasien infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi wajah nyata dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah hiruk-pikuk upaya pemadaman, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru-baru ini memetakan tiga hambatan utama yang membuat api begitu sulit dikendalikan: kekeringan ekstrem, sulitnya akses air, dan persoalan normalisasi kanal.

Ketiga hambatan ini bukan sekadar catatan teknis di ruang rapat. Ketiganya menentukan berapa lama asap akan menggantung di langit kota-kota besar, dan seberapa cepat warga bisa kembali beraktivitas normal. Ibarat seperti mencoba memadamkan kompor yang menyala di dapur, tetapi keran air di rumah sedang mati total, petugas bisa berusaha sekuat apa pun, hasilnya tetap jauh dari optimal tanpa dukungan sumber daya yang memadai.

Kekeringan: Bahan Bakar Alami yang Tak Pernah Habis

Hambatan pertama adalah kekeringan, dan ini menjadi akar dari hampir semua kesulitan di lapangan. Pada musim kemarau, lahan gambut yang semula basah berubah menjadi tumpukan bahan bakar raksasa. Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas karhutla pada 2023 mencapai lebih dari satu juta hektare, dan sebagian besar berada di kawasan gambut. Gambut yang kering mampu menyimpan panas dalam waktu lama, sehingga api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga membara di bawah tanah selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, tanpa terlihat dari atas.

Fenomena El Nino memperparah situasi ini. Ketika indeks kekeringan mencapai level ekstrem, curah hujan turun drastis dan kelembapan udara menyusut. Kondisi semacam itu membuat titik api baru mudah muncul dan api lama cepat membesar. Bagi tim pemadam, kekeringan berarti mereka berhadapan dengan musuh yang terus memperbaharui energinya sendiri, sementara tenaga dan logistik mereka terbatas.

Sulitnya Akses Air: Sumber Daya Justru Menjauh

Hambatan kedua adalah sulitnya akses air, yang ironisnya menjadi kebutuhan paling mendesak saat kebakaran terjadi. Di banyak lokasi terdampak, kanal-kanal yang biasanya menjadi sumber air sudah kering lebih dulu. Jarak antara titik api dan sumber air terdekat bisa mencapai puluhan kilometer dengan medan yang berat, sehingga mobil pemadam kesulitan mendekat.

Operasi pemadaman dari udara melalui water bombing juga menghadapi keterbatasan. Armada helikopter dan pesawat yang tersedia jumlahnya terbatas, sementara titik api bisa tersebar di ratusan lokasi sekaligus. Belum lagi biaya operasional yang tinggi dan kondisi asap tebal yang membatasi jarak pandang pilot. Akibatnya, cakupan pemadaman dari udara tidak pernah bisa menjangkau seluruh titik api dalam satu waktu, dan petugas darat harus berjalan kaki membawa peralatan seadanya menembus asap.

Normalisasi Kanal: Solusi Jangka Panjang yang Terkendala Musim

Hambatan ketiga berkaitan dengan normalisasi kanal. Kanal adalah saluran air buatan yang sejak puluhan tahun lalu dibangun untuk mengeringkan lahan gambut demi kepentingan pertanian dan perkebunan. Namun, praktik ini justru menjadi bumerang: drainase membuat gambut kering permanen, dan gambut kering adalah bahan bakar paling mudah terbakar di Indonesia.

Normalisasi kanal hadir sebagai solusi pemulihan, yakni membendung kanal-kanal lama agar air tertahan dan membasahi kembali gambut, sebuah metode yang dikenal sebagai rewetting atau pembasahan ulang. Masalahnya, proses ini membutuhkan air dalam jumlah besar pada saat air justru paling langka. Di musim kemarau ekstrem, banyak kanal yang ingin dinormalisasi bahkan sudah kering total, sehingga upaya pemulihan harus menunggu datangnya hujan. Di sinilah letak paradoksnya: untuk mencegah kebakaran di masa depan, kita butuh air sekarang, padahal air hanya tersedia di musim hujan.

Mitigasi Diperkuat: Peran Teknologi di Tengah Keterbatasan

Menghadapi tiga hambatan tersebut, upaya mitigasi terus diperkuat melalui kombinasi langkah konvensional dan inovasi teknologi. Salah satu andalan adalah teknologi modifikasi cuaca (TMC), yang menaburkan garam ke awan agar hujan turun lebih awal dan mempercepat pembasahan lahan gambut. Meski tidak bisa menghentikan kekeringan sepenuhnya, TMC terbukti membantu menekan luas area terbakar ketika diterapkan sejak dini.

Di sisi lain, pengembangan sistem peringatan dini berbasis citra satelit mulai memanfaatkan machine learning, cabang kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan komputer belajar dari data, untuk memprediksi titik api sebelum api membesar. Data titik panas yang dipantau secara real-time kemudian diolah dalam satu platform terpadu, sehingga petugas bisa mengerahkan sumber daya ke lokasi prioritas secara lebih efisien. Penelitian tentang bahan pembasah gambut yang ramah lingkungan juga terus berjalan di sejumlah kampus, membuka harapan baru bagi ekosistem lahan basah.

Namun, semua teknologi hanya akan optimal jika ditopang oleh kesiapan masyarakat. Pencegahan tetap jauh lebih murah daripada pemadaman: menghentikan pembukaan lahan dengan cara membakar, menjaga kanal tetap terisi air, dan melaporkan titik api sejak dini adalah investasi paling efisien yang bisa dilakukan semua pihak. Karena pada akhirnya, karhutla bukan hanya soal api dan air, melainkan soal bagaimana kita menjaga keseimbangan ekosistem sepanjang tahun, bukan hanya ketika asap sudah menyesakkan dada.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User