BNPB Buka Suara soal Kebakaran Hutan Parah yang Kepung Kalimantan
Ketika kebakaran hutan melanda, dampaknya tidak pernah berhenti di batas hutan. Ia merembes ke kehidupan sehari-hari: langit pagi berubah kelabu, anak-anak berangkat sekolah dengan masker, jadwal pene...
Ketika kebakaran hutan melanda, dampaknya tidak pernah berhenti di batas hutan. Ia merembes ke kehidupan sehari-hari: langit pagi berubah kelabu, anak-anak berangkat sekolah dengan masker, jadwal penerbangan tersendat, dan ruang IGD rumah sakit mulai dipenuhi pasien gangguan pernapasan. Dalam pekan-pekan terakhir, citra satelit yang tampil di Google Maps memperlihatkan gumpalan asap tebal menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan, membuat publik bertanya-tanya seberapa parah kondisi di lapangan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lembaga pemerintah yang bertugas menangani bencana, akhirnya buka suara mengenai situasi ini.
Ibarat seperti luka bakar pada kulit, kebakaran hutan meninggalkan bekas yang tidak hilang dalam semalam. Luka di permukaan mungkin terlihat kecil, tetapi jaringan di bawahnya bisa terbakar perlahan dan menyisakan rasa sakit bertahun-tahun. Demikian pula dengan karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Kalimantan: nyala api di permukaan hanyalah puncak gunung es, sementara lahan gambut di bawahnya dapat membara tanpa terlihat selama berminggu-minggu.
Mengapa Kebakaran Kalimantan Begitu Terlihat dari Satelit
Tampilnya asap kebakaran di Google Maps bukan kebetulan. Citra satelit yang menampilkan peta digital tersebut menangkap jejak visual dari titik panas (hotspot), yakni area dengan suhu permukaan yang jauh lebih tinggi dari sekitarnya. Satelit pemantau seperti MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) mendeteksi anomali suhu ini dari orbit Bumi dan mengirim datanya ke lembaga pemantau seperti BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Ketika ratusan titik panas muncul dalam satu waktu, asap yang dihasilkan cukup tebal untuk terlihat dari luar angkasa.
Kalimantan menjadi wilayah yang paling rentan karena dua faktor utama: lahan gambut yang luas dan musim kemarau yang panjang. Gambut adalah tanah organik yang menyerap air seperti spons raksasa. Saat musim kering, gambut kehilangan kelembapan dan menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar. Yang lebih berbahaya, api di gambut merambat di bawah permukaan tanah, tidak terlihat dari atas, dan sangat sulit dipadamkan meski air sudah disiram dari helikopter. Inilah alasan kebakaran di Kalimantan kerap berlangsung berminggu-minggu dan menghasilkan asap pekat yang mengganggu wilayah sekitarnya, termasuk negara tetangga.
Langkah BNPB: Dari Water Bombing hingga Modifikasi Cuaca
Menanggapi situasi ini, BNPB menyatakan timnya telah diterjunkan ke lapangan dengan berbagai peralatan. Operasi pemadaman dilakukan lewat tiga jalur: patroli darat oleh personel gabungan, water bombing atau pengeboman air menggunakan helikopter untuk menjatuhkan ribuan liter air ke titik api, dan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) atau rekayasa cuaca yang menaburkan garam ke awan agar hujan buatan turun di atas area terdampak.
Kepala BNPB menegaskan bahwa pemadaman di lahan gambut membutuhkan pendekatan khusus. Menyiram permukaan saja tidak cukup; tim harus membasahi lapisan gambut secara menyeluruh agar api bawah tanah mati. Selain itu, pembangunan sekat kanal—parit pembatas air—digunakan untuk mengembalikan kelembapan lahan. BNPB juga mengaktifkan pemantauan 24 jam dan mengimbau masyarakat serta perusahaan perkebunan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena praktik tersebut dilarang dan dapat dipidana.
“Kami tidak akan berhenti sampai titik api benar-benar padam. Keselamatan warga dan kualitas udara adalah prioritas utama,” demikian pernyataan resmi BNPB dalam keterangannya.
Dampak Kesehatan: ISPA dan Polusi Udara yang Mengancam
Dampak paling terasa dari karhutla adalah kualitas udara yang memburuk. Asap kebakaran mengandung PM2,5, yaitu partikel debu halus berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil—sekitar 30 kali lebih tipis dari rambut manusia. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini bisa masuk jauh ke dalam paru-paru hingga ke aliran darah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas aman paparan PM2,5 sebesar 15 mikrogram per meter kubik dalam 24 jam. Di wilayah terdampak kebakaran, angka ini bisa melonjak berkali-kali lipat.
Akibatnya, kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) meningkat drastis, terutama pada anak-anak, lansia, dan penderita asma. Sekolah di sejumlah daerah terpaksa diliburkan, dan warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Dari sisi ekonomi, kabut asap juga mengganggu sektor penerbangan dan pariwisata, sementara pelepasan karbon dari gambut yang terbakar mempercepat perubahan iklim global. Kerugian ini menjadikan karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, melainkan juga bencana ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Pencegahan Jangka Panjang: Tugas Bersama
Para ahli menilai pemadaman saja tidak cukup; yang lebih penting adalah pencegahan. Restorasi ekosistem gambut dengan membasahi kembali lahan kering, penguatan sistem peringatan dini berbasis citra satelit, serta pembentukan tim pemadam berbasis desa seperti Masyarakat Peduli Api menjadi kunci jangka panjang. Penegakan hukum juga harus konsisten: Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengancam pelaku pembakaran lahan dengan pidana hingga 10 tahun penjara dan denda miliaran rupiah.
Pada akhirnya, teknologi seperti satelit pemantau dan rekayasa cuaca hanyalah alat bantu. Tanpa perubahan perilaku—baik oleh petani kecil yang terbiasa membakar ladang maupun korporasi yang lalai menjaga lahannya—asap yang mengepung Kalimantan akan terus kembali setiap musim kemarau. Kabar baiknya, setiap titik api yang berhasil dipadamkan hari ini berarti satu langkah menuju langit yang lebih bersih esok hari.
Comments (0)