BMKG Ungkap Penyebab Jakarta Dingin Malam dan Panas Siang

Warga Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir merasakan perubahan suhu yang kontras. Pada malam hingga pagi hari, udara terasa lebih dingin dari biasanya,

BMKG Ungkap Penyebab Jakarta Dingin Malam dan Panas Siang

Warga Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir merasakan perubahan suhu yang kontras. Pada malam hingga pagi hari, udara terasa lebih dingin dari biasanya, sementara saat siang, matahari terik menyengat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari Bediding, yakni kondisi cuaca yang lazim terjadi di musim kemarau akibat pengaruh Angin Monsun Australia.

Suhu minimum di beberapa wilayah Jakarta dan sekitarnya tercatat bisa mencapai 21–23 derajat Celsius pada dini hari, turun signifikan dari rata-rata suhu malam di musim hujan. Sementara itu, suhu maksimum siang hari bisa melonjak hingga 33–34 derajat Celsius. Ketidaknyamanan ini memicu banyak pertanyaan dari masyarakat: mengapa Jakarta bisa sedingin ini malam hari, padahal siangnya begitu panas?

Apa Itu Fenomena Bediding?

Bediding merupakan istilah lokal untuk menggambarkan kondisi suhu udara yang terasa dingin di malam dan pagi hari pada musim kemarau, meskipun siang hari tetap panas. Secara meteorologis, fenomena ini terjadi ketika massa udara kering dan dingin dari Australia bertiup ke wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Angin Monsun Australia membawa udara yang minim uap air, sehingga langit menjadi cerah tanpa awan sepanjang hari.

Ketika malam tiba, ketiadaan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi dapat lepas kembali ke angkasa secara maksimal melalui proses radiative cooling. Inilah yang menyebabkan suhu turun drastis. “Ketiadaan tutupan awan seperti selimut yang hilang. Energi yang diserap tanah dan bangunan di siang hari langsung terlepas begitu saja setelah matahari terbenam,” jelas Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG dalam keterangannya.

Peran Angin Monsun Australia

Angin Monsun Australia merupakan aliran massa udara dari benua Australia yang saat ini sedang mengalami musim dingin. Angin ini bersifat kering dan dingin karena berasal dari wilayah gurun dan padang rumput yang minim penguapan. Monsun Australia biasanya aktif pada periode Juni–September, membawa musim kemarau di Indonesia.

“Kita sekarang berada di puncak musim kemarau. Monsun Australia cukup kuat dan stabil, sehingga pasokan udara kering terus mengalir ke Pulau Jawa,” ujar peneliti iklim BMKG. “Akibatnya, langit cenderung bersih dari awan, dan perbedaan suhu antara siang dan malam menjadi sangat ekstrem.”

Fenomena ini diperkuat oleh posisi matahari yang masih berada di belahan bumi utara, sehingga wilayah selatan Indonesia menerima radiasi matahari yang lebih intens pada siang hari. Sementara itu, pada malam hari, panjang malam di musim kemarau memungkinkan pendinginan permukaan yang lebih lama.

Efek Pulau Bahang Perkotaan Memperparah Kontras Suhu

Selain faktor meteorologis, kawasan Jabodetabek juga mengalami efek pulau bahang perkotaan (urban heat island). Permukaan beton, aspal, dan gedung tinggi menyerap panas matahari lebih banyak dan melepaskannya secara perlahan di malam hari. Namun, saat langit cerah, pelepasan panas itu justru lebih cepat karena tidak terhambat awan. Akibatnya, suhu malam bisa turun lebih rendah, sementara siang hari suhu terasa lebih panas karena panas yang terperangkap di antara bangunan.

Studi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan bahwa suhu permukaan di pusat kota Jakarta bisa 2–3 derajat lebih tinggi dibandingkan daerah pinggiran pada siang hari, sedangkan pada malam hari perbedaan itu menyempit hingga 1 derajat. Kombinasi antara efek pulau bahang dan langit cerah inilah yang membuat sensasi dingin malam begitu mencolok setelah siang yang terik.

Dampak pada Kesehatan dan Aktivitas Masyarakat

Perbedaan suhu yang mencolok ini dapat mempengaruhi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Udara dingin malam hari bisa memicu gangguan pernapasan, sementara panas siang hari meningkatkan risiko dehidrasi. Masyarakat diimbau untuk menjaga asupan cairan sepanjang hari dan menggunakan pakaian yang sesuai dengan kondisi cuaca.

“Perubahan suhu ekstrem dalam satu hari bisa membebani sistem termoregulasi tubuh, terutama pada lansia dan balita. Pastikan tetap terhidrasi dan jaga kehangatan saat malam,” saran dokter spesialis penyakit dalam RS Cipto Mangunkusumo.

Selain itu, aktivitas seperti beternak dan pertanian skala rumah tangga juga perlu adaptasi. Suhu dingin dini hari bisa mempengaruhi pertumbuhan tanaman tertentu dan kesehatan hewan ternak yang tidak terlindungi. Petambak ikan di wilayah Depok dan Bogor misalnya, mulai menambahkan penutup kolam untuk menjaga suhu air tetap stabil.

Berapa Lama Fenomena Ini Akan Berlangsung?

Menurut BMKG, fenomena Bediding ini diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir musim kemarau, sekitar September. Namun, intensitasnya dapat bervariasi tergantung pada kekuatan Monsun Australia dan adanya gangguan atmosfer lain seperti gelombang tropis atau intrusi udara basah. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dari saluran resmi BMKG untuk mendapatkan peringatan dini jika terjadi perubahan mendadak.

Sebagai langkah sederhana, menjaga ventilasi rumah tetap baik di malam hari dan menggunakan selimut tipis dapat membantu mengurangi dampak suhu dingin. Sementara itu, pada siang hari, penggunaan topi atau payung serta minum air cukup menjadi kunci untuk menghadapi teriknya matahari.

Fenomena alam ini mengingatkan kita bahwa iklim tropis sekalipun memiliki dinamika suhu yang menarik. Memahami penyebabnya tak hanya menjawab rasa penasaran, tetapi juga membantu kita beradaptasi dengan lebih baik.

[TAGS]: BMKG, Bediding, Monsun Australia, cuaca Jakarta, suhu ekstrem [SOCIAL_TWEET]: Tahu kenapa Jakarta dingin di malam hari tapi panas siang hari? BMKG menjelaskan fenomena Bediding akibat Angin Monsun Australia. Suhu bisa beda hingga 10°C dalam sehari! Pantau terus info cuaca. #Bediding #CuacaEkstrem #BMKG [SOCIAL_FB]: Jakarta terasa dingin malam-malam akhir-akhir ini? Bukan tanpa sebab. BMKG ungkap fenomena Bediding yang bikin suhu malam dan siang kontras. Cek penjelasan lengkapnya di sini! [SOCIAL_TG]: ❄️ Jakarta dingin malam, panas siang? Ini penjelasan BMKG tentang fenomena Bediding yang sedang terjadi. Jaga kesehatan ya! #InfoCuaca [SOCIAL_THREADS]: Malam-malam sekarang kok dingin banget ya? 😅 Ternyata ada fenomena Bediding, angin dari Australia yang bawa udara kering. Siang bolong panas, malemnya selimutan. Yuk simak penjelasan BMKG biar gak bingung!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User