Bandara Husein Bandung Akan Kembali Layani Pesawat Jet 17 Agustus 2026

Kementerian Perhubungan mematok tanggal 17 Agustus 2026 sebagai momentum kembalinya layanan pesawat jet di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. Target ambisius ini disampaikan seusai rapat koord...

Kementerian Perhubungan mematok tanggal 17 Agustus 2026 sebagai momentum kembalinya layanan pesawat jet di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. Target ambisius ini disampaikan seusai rapat koordinasi lintas instansi yang membahas percepatan pengembangan infrastruktur penerbangan di Jawa Barat. Jika terealisasi, ini akan menjadi tonggak penting setelah lebih dari tiga tahun gerbang udara bersejarah itu hanya melayani penerbangan turboprop dan charter kecil.

Mengapa Penerbangan Jet Sempat Dihentikan

Sejak pengoperasian penuh Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka pada akhir 2023, seluruh penerbangan jet komersial dari dan menuju Bandung Raya dialihkan ke sana. Kebijakan itu diambil untuk mengurangi beban runway Husein yang panjangnya hanya sekitar 2.200 meter, dikelilingi permukiman padat dan area militer, serta sering terganggu kabut tebal khas dataran tinggi. Di sisi lain, Kertajati menawarkan landasan 3.000 meter yang mampu menampung pesawat berbadan lebar.

Meski demikian, pengalihan ini memunculkan persoalan baru. Waktu tempuh dari pusat Kota Bandung ke Kertajati yang mencapai dua hingga tiga jam membuat banyak pelaku bisnis dan wisatawan enggan. Tingkat keterisian sejumlah rute jet dari Kertajati pun tidak seoptimal yang diharapkan, memicu desakan agar Husein diaktifkan kembali sebagai bandara jet komuter dengan standar keselamatan yang ditingkatkan.

Rencana dan Skala Layanan Jet yang Disiapkan

Untuk memenuhi target Agustus 2026, Kemenhub bersama TNI AU—selaku pengelola pangkalan udara—dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengakselerasi tiga paket pekerjaan utama. Pertama, perpanjangan landasan hingga minimal 2.500 meter dengan memperkuat bahu jalan untuk runway strip. Kedua, pemasangan sistem Instrument Landing System (ILS) kategori II agar pesawat bisa mendarat aman dalam kondisi jarak pandang terbatas. Ketiga, renovasi terminal penumpang sipil agar kapasitasnya meningkat dari 1,5 juta menjadi sekitar 3 juta penumpang per tahun.

Pesawat jet yang akan dilayani kemungkinan terbatas pada tipe narrow-body seperti Airbus A320 dan Boeing 737-800, dengan rute-rute padat seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan beberapa kota di Sumatera. Penerbangan ini direncanakan menggunakan konsep slot time ketat untuk menghindari tabrakan jadwal dengan aktivitas penerbangan militer dan kebisingan yang mengganggu warga sekitar. Diskusi dengan maskapai pelat merah dan swasta sudah dimulai, dan sejumlah di antaranya menyatakan minat tinggi untuk kembali membuka rute dari Husein.

Dampak Ekonomi dan Pariwisata Bandung Raya

Aktivasi kembali layanan jet di Husein diproyeksi menggairahkan sektor pariwisata, bisnis konvensi, dan industri kreatif yang menjadi tulang punggung perekonomian Bandung Raya. Para pelaku usaha di sektor perhotelan, restoran, dan pusat perbelanjaan telah menyampaikan harapan besar agar wisatawan mancanegara dan domestik dari luar Pulau Jawa bisa kembali mendarat langsung di pusat kota.

Asosiasi Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat mencatat, tingkat okupansi hotel di Bandung sempat turun hingga 20 persen pasca-pemindahan penerbangan jet. Mereka menilai selisih waktu tempuh darat dari Kertajati yang signifikan menjadi faktor utama turunnya minat wisatawan, terutama yang melakukan kunjungan singkat akhir pekan. Dengan Husein kembali melayani jet, hilirisasi produk ekonomi kreatif seperti fesyen, kuliner, dan kriya bakal lebih mudah menjangkau pasar luar daerah.

Kajian sementara Kemenhub memperkirakan keberadaan penerbangan jet di Husein bisa menambah frekuensi kunjungan wisatawan ke Bandung Raya hingga 500.000 orang per tahun. Angka ini belum termasuk potensi lonjakan penumpang bisnis yang selama ini mengandalkan kereta cepat dan tol sebagai alternatif. Pemerintah daerah menyambut target ini dengan menyiapkan perbaikan akses jalan menuju bandara serta integrasi antarmoda bersama stasiun kereta api Padalarang.

Tantangan dan Jaminan Keselamatan

Kalangan pengamat penerbangan mengingatkan agar target ambisius ini tidak mengorbankan aspek keselamatan. Area pendekatan landasan 11 dan 29 di Husein diapit perbukitan dan gedung-gedung tinggi, sehingga setiap penambahan panjang landasan harus memenuhi area keselamatan penerbangan atau Runway End Safety Area (RESA). Selain itu, kehadiran pesawat jet dengan mesin yang lebih bising berpotensi memicu resistensi warga di Kecamatan Cicendo dan Andir.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyatakan akan menjalankan prosedur Safety Assessment dan Community Noise Impact Assessment sebelum membuka operasi jet. Jika seluruh tahap berjalan lancar, maka pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI, warga Bandung bisa kembali menyaksikan pesawat jet komersial take-off dan landing dari pusat kota—sebuah pemandangan yang delapan dekade lalu menjadi saksi bisu sejarah penerbangan nasional.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User