BAIC T1 Terjual 50 Unit, Harga Baru Diumumkan di GIIAS 2026
Menjelang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, BAIC Indonesia mencatatkan pencapaian yang cukup mengejutkan: sebanyak 50 unit BAIC T1 telah resmi terjual meski harga definitifnya b...
Menjelang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, BAIC Indonesia mencatatkan pencapaian yang cukup mengejutkan: sebanyak 50 unit BAIC T1 telah resmi terjual meski harga definitifnya baru saja diumumkan. Fenomena ini menandakan kepercayaan konsumen terhadap jenama asal Tiongkok tersebut terus menguat di tengah persaingan kendaraan elektrifikasi yang kian sengit di Tanah Air. Pameran otomotif tahunan yang akan berlangsung di ICE BSD City itu diproyeksikan menjadi panggung utama bagi BAIC untuk menunjukkan keseriusannya, tidak sekadar mendatangkan produk jadi, melainkan juga memamerkan cetak biru produksi lokal dan berbagai inovasi teknologi kendaraan yang akan membentuk ekosistem mobilitas masa depan Indonesia.
Antusiasme Pasar: 50 Unit T1 Ludes dalam Hitungan Pekan
Meskipun belum menetapkan harga resmi saat sesi pemesanan awal dibuka secara terbatas, unit BAIC T1 tetap laku dipesan. Konsumen tampaknya tidak ragu untuk mengamankan slot produksi awal setelah menyaksikan langsung spesifikasi yang diusung. SUV kompak ini dibekali motor listrik bertenaga 150 kW (setara 204 PS) dengan torsi puncak 310 Nm, yang memungkinkan akselerasi dari 0–100 km/jam hanya dalam tempo 7,8 detik. Baterainya berkapasitas 61,4 kWh dan diklaim mampu menempuh jarak hingga 470 kilometer dalam satu siklus pengisian penuh berdasarkan standar NEDC—cukup untuk mobilitas perkotaan dan perjalanan luar kota tanpa kecemasan daya.
Harga yang akhirnya diumumkan di GIIAS 2026 berada di kisaran Rp 425 juta (on-the-road DKI Jakarta), menempatkan T1 pada segmen yang sangat kompetitif. Dengan banderol serupa, konsumen mendapatkan paket keselamatan aktif yang lengkap, mencakup Adaptive Cruise Control, Lane Keeping Assist, dan Autonomous Emergency Braking. Interiornya pun tidak setengah hati: layar sentuh tengah berukuran 15,6 inci mendominasi dasbor, didukung konektivitas nirkabel Apple CarPlay dan Android Auto, serta sistem audio premium dari Infinity. Manajemen BAIC Indonesia menyebut bahwa 50 unit yang telah terjual itu didominasi oleh konsumen di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, yang sebelumnya telah memiliki pengalaman dengan mobil listrik atau setidaknya tertarik pada biaya operasional yang lebih rendah.
BAIC BJ1: Langkah Baru Menuju Mobilitas Listrik Terjangkau
Di samping keberhasilan awal T1, BAIC juga memanfaatkan GIIAS 2026 untuk memperkenalkan BAIC BJ1, sebuah kendaraan listrik yang dirancang khusus untuk segmen yang lebih luas dan tentu saja, lebih terjangkau. Pihak perusahaan menegaskan bahwa BJ1 bukan sekadar varian di bawah T1, melainkan model yang dikembangkan dengan filosofi “city-centric mobility” — mengutamakan kelincahan, efisiensi, dan kemudahan pengisian daya di lingkungan perkotaan yang padat.
BAIC BJ1 menggunakan platform baterai lithium iron phosphate (LFP) berkapasitas 38 kWh yang memberikan jarak tempuh sekitar 300 kilometer (NEDC). Motor listriknya bertenaga 95 kW dengan torsi 180 Nm, cukup untuk melesat dari persimpangan dan menyusul di jalan tol dalam kota. Dimensinya yang panjang 3.980 mm, lebar 1.760 mm, dan tinggi 1.580 mm membuatnya terhitung sebagai city car yang lincah, namun tetap mampu menampung lima penumpang dewasa dengan bagasi 280 liter. Harga perkenalan BJ1 di GIIAS 2026 dipatok mulai dari Rp 250 juta (OTR Jakarta), menjadikannya salah satu mobil listrik paling menarik di kelasnya, terutama jika dibandingkan dengan para pesaing yang rata-rata masih bertengger di atas Rp 300 juta.
Yang menjadi daya tarik lain pada BJ1 adalah dukungan pengisian cepat. Dengan DC fast charging 60 kW, baterainya dapat terisi dari 10% ke 80% dalam waktu 35 menit. Sementara itu, pengisian di rumah menggunakan wallbox AC 7 kW membutuhkan sekitar 6 jam untuk isi penuh. Kedua model ini, T1 dan BJ1, akan mulai didistribusikan ke konsumen pada kuartal ketiga 2026, dengan opsi garansi baterai hingga 8 tahun atau 160.000 kilometer — angka yang cukup melegakan bagi pengguna yang baru pertama kali beralih ke listrik.
Strategi Lokalisasi dan Ekosistem Teknologi
Tak ingin sekadar menjadi pemain impor, BAIC Indonesia secara resmi mengumumkan rencana produksi lokal di fasilitas yang berlokasi di Kawasan Industri Cikarang, Jawa Barat. Perusahaan telah menggelontorkan investasi awal senilai Rp 1,2 triliun untuk menyiapkan jalur perakitan yang akan memproduksi T1 dan BJ1 secara bertahap, dimulai dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekitar 25 persen pada tahap pertama dan ditargetkan mencapai lebih dari 40 persen dalam tiga tahun ke depan. Langkah ini tidak hanya akan menekan harga jual berkat insentif pajak pemerintah, tetapi juga membuka ribuan lapangan kerja baru dan memperkuat rantai pasok komponen otomotif nasional.
Lebih jauh, BAIC juga memamerkan berbagai teknologi kendaraan yang menjadi fondasi ekosistem mereka. Teknologi Vehicle-to-Load (V2L) dengan daya keluaran hingga 3,3 kW memungkinkan pengguna memanfaatkan baterai mobil sebagai sumber daya darurat atau saat beraktivitas di luar ruangan. Sementara itu, sistem Advanced Driver Assistance System (ADAS) level 2+ pada T1 dan level 1 pada BJ1 memperlihatkan komitmen BAIC terhadap keselamatan. Tak ketinggalan, platform konektivitas BAIC Smart Cabin yang didukung kecerdasan buatan (AI) dapat mengenali suara dalam bahasa Indonesia dan merespons perintah untuk navigasi, pengaturan suhu, hingga hiburan di dalam kabin.
BAIC juga berencana mengembangkan infrastruktur penunjang berupa stasiun penukaran baterai (battery swap) untuk segmen komersial di kemudian hari, meski belum merilis detail waktu peluncurannya. Untuk saat ini, kemitraan dengan penyedia layanan pengisian daya publik telah dijalin agar pemilik T1 dan BJ1 dapat mengakses ribuan titik pengisian di seluruh Indonesia melalui aplikasi terintegrasi.
Dengan strategi yang menyasar beragam segmen, dari T1 yang lebih premium hingga BJ1 yang merakyat, serta komitmen produksi lokal yang jelas, BAIC tampaknya tidak sekadar meramaikan pasar, melainkan benar-benar ingin menjadi katalisator percepatan elektrifikasi di Indonesia. GIIAS 2026 menjadi saksi bagaimana 50 unit yang terjual lebih dulu hanyalah awal dari gelombang yang lebih besar.
Baca juga:
Comments (0)