Api Bawah Permukaan Dituding Sebagai Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Padam

Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin hingga kini masih menyisakan tantangan besar bagi tim pemadam. Meski sudah berhari-hari dikerahkan personel dan peralatan, kobaran api...

Api Bawah Permukaan Dituding Sebagai Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Padam

Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin hingga kini masih menyisakan tantangan besar bagi tim pemadam. Meski sudah berhari-hari dikerahkan personel dan peralatan, kobaran api tak kunjung padam sepenuhnya. Warga sekitar pun terus mengeluhkan gangguan pernapasan akibat asap yang tak kunjung hilang. Sejumlah pakar mulai angkat bicara, dan salah satunya datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Akar Masalah di Balik Sulitnya Pemadaman

Menurut peneliti dari BRIN, fenomena yang terjadi di TPA Jatiwaringin dikenal sebagai api bawah permukaan atau subsurface fire. Api jenis ini berbeda dengan kebakaran terbuka biasa karena sumber panas dan bahan bakar terletak di dalam tumpukan material sampah yang tebal. Proses dekomposisi anaerobik pada sampah organik menghasilkan gas metana dalam jumlah besar. Ketika suhu di dalam tumpukan meningkat akibat gesekan atau reaksi kimia, gas ini bisa menyala sendiri dan menciptakan bara yang sulit dijangkau.

Kondisi ini diperburuk oleh karakteristik tumpukan sampah yang bertindak seperti isolator. Air atau busa pemadam yang disemprotkan dari permukaan hanya mampu mendinginkan lapisan paling atas, sementara api terus menjalar di bagian dalam. Bahkan, dalam beberapa kasus, upaya penyiraman justru dapat memicu produksi uap beracun yang membahayakan petugas.

Penjelasan Ahli: Mengapa Metode Konvensional Tak Mempan

Pakar dari BRIN menjelaskan bahwa untuk memadamkan api bawah permukaan secara tuntas, tim pemadam harus bisa mencapai sumber panas sedalam beberapa meter di bawah gunungan sampah. "Menyemprotkan air dari luar ibarat menyiram sekam yang membara; air akan menguap sebelum menyentuh inti api. Perlu dilakukan pembongkaran material secara hati-hati untuk memasukkan agen pendingin hingga ke pusat pembakaran," ujar sang pakar.

Lebih lanjut, tim peneliti mencatat bahwa suhu di dalam tumpukan sampah yang terbakar bisa mencapai lebih dari 500 derajat Celsius. Pada suhu setinggi itu, air biasa dengan cepat berubah menjadi uap dan bahkan bisa menyebabkan ledakan uap jika terperangkap di dalam rongga sempit. Alat berat diperlukan untuk menggali dan memisahkan material yang terbakar, namun risiko amblesan dan longsoran sampah menjadi ancaman serius bagi operator.

Proses terbentuknya api bawah permukaan sebenarnya adalah reaksi berantai dari aktivitas mikroorganisme. Bakteri metanogen memecah sampah organik dalam kondisi tanpa oksigen, menghasilkan metana yang terperangkap di celah-celah sampah. Jika suhu lingkungan di dalam tumpukan mencapai titik nyala—sekitar 537 derajat Celsius untuk metana—ledakan kecil dapat memicu titik api yang terus membara. Karena tertimbun sampah baru yang terus datang, bara ini tidak pernah benar-benar padam, melainkan terus bermigrasi mengikuti kantung-kantung gas yang kaya nutrisi.

Dampak Lingkungan dan Risiko Kesehatan

Kebakaran bawah permukaan tidak hanya sulit dipadamkan, tetapi juga melepaskan lebih banyak polutan berbahaya. Pembakaran tidak sempurna di dalam tumpukan sampah menghasilkan karbon monoksida (CO), hidrogen sulfida (H₂S), dan berbagai senyawa organik volatil yang beracun. Jika tercampur dengan plastik dan limbah elektronik, hasil pembakaran dapat mengandung dioksin dan furan yang bersifat karsinogenik. Masyarakat yang tinggal di sekitar TPA berpotensi terpapar risiko penyakit saluran pernapasan, iritasi mata, hingga gangguan sistem saraf.

Selain itu, api bawah permukaan dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan jika tidak ditangani dengan benar. Kasus serupa pernah terjadi di sejumlah TPA di dunia, seperti kebakaran di TPA Daeseong-dong, Korea Selatan, yang baru padam setelah lebih dari setahun upaya pemadaman. Hal ini menjadi pengingat bahwa penanganan masalah ini membutuhkan strategi yang komprehensif dan tidak bisa disamakan dengan kebakaran biasa.

Seorang warga yang rumahnya hanya berjarak 300 meter dari TPA mengaku sudah dua minggu ini harus selalu memakai masker meski di dalam rumah. "Anak-anak sering batuk, dan bau menyengat membuat kami sulit tidur. Kami berharap pemerintah segera menemukan solusi," katanya. Tim medis setempat melaporkan peningkatan kunjungan pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak kebakaran terjadi.

Langkah Penanganan dan Rekomendasi BRIN

Menghadapi situasi tersebut, BRIN merekomendasikan pendekatan terpadu yang menggabungkan penggunaan alat berat untuk ekskavasi, injeksi material penyerap panas seperti busa khusus, dan pemasangan pipa ventilasi untuk melepaskan gas metana secara aman. Pendekatan ini memerlukan koordinasi antara dinas pemadam kebakaran, pengelola TPA, dan pakar geoteknik untuk meminimalkan risiko.

Pemerintah daerah juga diimbau untuk segera melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala dan menyediakan masker bagi warga terdampak. Dalam jangka panjang, pengelolaan sampah yang lebih modern, seperti pemilahan ketat, pengomposan, dan pemanenan gas metana untuk energi, bisa menjadi solusi pencegahan agar peristiwa serupa tidak terulang.

Sementara itu, tim gabungan terus berupaya mengisolasi area yang diduga menjadi pusat api bawah permukaan. Hujan yang turun sesekali justru tidak banyak membantu karena hanya membasahi lapisan atas, sementara di bagian dalam, bara api tetap tersembunyi dan menunggu suplai oksigen untuk kembali berkobar. Warga berharap, dengan adanya penanganan berbasis sains ini, langit di sekitar Jatiwaringin akan kembali bersih dari asap tebal secepat mungkin.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User