Anjloknya Harga Telur Ayam, Pemerintah Buka Kesempatan Ekspor ke ASEAN

Kondisi pasar telur ayam ras di Indonesia sedang tidak menggembirakan bagi peternak. Harga telur yang terus merosot dalam beberapa pekan terakhir membuat banyak peternak skala kecil dan menengah merug...

Anjloknya Harga Telur Ayam, Pemerintah Buka Kesempatan Ekspor ke ASEAN

Kondisi pasar telur ayam ras di Indonesia sedang tidak menggembirakan bagi peternak. Harga telur yang terus merosot dalam beberapa pekan terakhir membuat banyak peternak skala kecil dan menengah merugi. Di tengah deraan kerugian, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengambil langkah strategis, yaitu membuka peluang ekspor ke negara-negara tetangga seperti Singapura dan kawasan ASEAN lainnya. Langkah ini dinilai sebagai salah satu cara efektif untuk menyerap kelebihan pasokan dan menstabilkan harga di dalam negeri.

Mengapa Harga Telur Anjlok?

Fenomena anjloknya harga telur ayam bukanlah hal baru, namun siklusnya kali ini terasa lebih dalam. Berdasarkan pemantauan di berbagai sentra peternakan, surplus produksi menjadi penyebab utama. Produksi telur nasional yang mencapai jutaan ton per tahun tidak diimbangi dengan konsumsi domestik yang tumbuh sepadan. Beberapa faktor penyebab melonjaknya pasokan antara lain peningkatan populasi ayam petelur seiring dengan program pengembangan usaha peternakan yang gencar dilakukan beberapa tahun lalu, serta efisiensi produksi yang semakin baik berkat modernisasi kandang dan pakan.

Di sisi lain, konsumsi telur masyarakat cenderung stagnan atau bahkan menurun akibat menurunnya daya beli dan perubahan pola konsumsi pasca pandemi. Akibatnya, stok telur menumpuk di gudang peternak dan pasar. Kondisi ini menekan harga hingga ke level yang paling rendah, bahkan di bawah biaya produksi (BEP) yang diperkirakan berada di kisaran Rp22.000–Rp24.000 per kilogram. Padahal, harga di tingkat peternak saat ini seringkali hanya berada di rentang Rp18.000–Rp20.000 per kilogram. Situasi ini memukul ribuan peternak mandiri yang tidak memiliki jaringan distribusi luas.

Peluang Ekspor ke Singapura dan ASEAN

Melihat urgensi tersebut, Kementerian Perdagangan bergerak cepat dengan menjajaki pembukaan keran ekspor telur ayam ras. Singapura menjadi target utama karena negara pulau itu sangat bergantung pada impor pangan, termasuk telur. Selama ini Singapura telah mengimpor telur dari Malaysia, Thailand, dan Australia. Indonesia berpeluang merebut pangsa pasar karena memiliki keunggulan geografis: kedekatan jarak membuat biaya logistik lebih rendah dan kesegaran produk lebih terjamin.

Selain Singapura, negara-negara ASEAN lain juga masuk dalam radar. Brunei Darussalam, misalnya, memiliki ketergantungan impor yang tinggi. Begitu pula dengan Filipina dan Vietnam yang sesekali membuka impor telur saat produksi dalam negeri mereka tidak mencukupi. Potensi pasar ekspor telur di kawasan ASEAN sangat besar mengingat populasi ASEAN mencapai lebih dari 600 juta jiwa dan konsumsi telur per kapita yang terus meningkat. Data asosiasi peternak menunjukkan, saat surplus produksi domestik mencapai 10–15 persen di atas kebutuhan nasional, ekspor menjadi katup penyelamat yang paling rasional.

Strategi Pemerintah Mendukung Ekspor

Untuk mewujudkan ekspor, pemerintah tidak sekadar membuka izin, tetapi juga menyiapkan serangkaian strategi pendukung. Kementerian Perdagangan akan memfasilitasi pertemuan bisnis (business matching) antara eksportir lokal dengan importir dari Singapura dan negara tujuan lainnya. Selain itu, pemerintah juga berupaya menyelaraskan standar keamanan pangan. Telur yang diekspor harus memenuhi persyaratan sanitasi dan bebas dari residu antibiotik serta zat berbahaya lainnya—standar yang semakin ketat diterapkan Singapura.

Oleh karena itu, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan akan meningkatkan pendampingan kepada peternak. Program sertifikasi zona bebas penyakit flu burung (Avian Influenza) serta pelatihan manajemen biosekuriti akan digencarkan. “Kami ingin memastikan telur asal Indonesia diterima di pasar internasional, bukan hanya dari sisi harga, tetapi juga kualitas,” demikian pernyataan yang sering disampaikan pejabat terkait. Para peternak juga akan didorong untuk membentuk koperasi atau kelompok usaha bersama agar volume ekspor dapat dipenuhi secara kontinu.

Tantangan yang Harus Diantisipasi

Rencana ekspor ini bukan tanpa hambatan. Tantangan pertama adalah logistik dan rantai dingin. Telur merupakan produk yang mudah rusak dan membutuhkan penanganan khusus selama pengiriman agar tetap segar saat tiba di negara tujuan. Pelabuhan-pelabuhan di Pulau Jawa dan Sumatera harus siap dengan fasilitas cold storage yang memadai. Kedua, persaingan dengan negara eksportir mapan seperti Malaysia yang telah memiliki akses langsung ke pasar Singapura dan sistem distribusi yang sudah efisien. Indonesia perlu menawarkan harga yang lebih kompetitif atau diferensiasi kualitas.

Ketiga, adanya fluktuasi kebijakan impor di negara tujuan. Ketika produksi domestik negara tetangga melimpah, mereka dapat menutup keran impor sewaktu-waktu. Keempat, peternak harus mampu memenuhi permintaan dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Seringkali ekspor terhambat karena pasokan yang tidak stabil akibat skala usaha yang masih terfragmentasi. Oleh sebab itu, konsolidasi bisnis hulu-hilir sangat penting.

Dengan dibukanya peluang ekspor ini, diharapkan harga telur di dalam negeri dapat kembali bergerak ke titik yang menguntungkan peternak tanpa memberatkan konsumen. Keseimbangan baru antara pasokan domestik dan kebutuhan ekspor akan menjadi kunci stabilitas harga jangka panjang. Pemerintah optimistis, jika infrastruktur pendukung dan kolaborasi antarlembaga berjalan baik, Indonesia tidak hanya mampu mengatasi masalah kelebihan pasokan, tetapi juga mengukuhkan diri sebagai pemain utama dalam pasar telur Asia Tenggara.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User