Alibaba Larang Total Claude Code, China Keluarkan Peringatan Bahaya Produk AS
Raksasa teknologi Tiongkok, Alibaba Group, secara resmi mengumumkan pelarangan penggunaan alat bantu pemrograman berbasis kecerdasan buatan asal Amerika Serikat, Claude Code, terhitung mulai 10 Juli 2...
Raksasa teknologi Tiongkok, Alibaba Group, secara resmi mengumumkan pelarangan penggunaan alat bantu pemrograman berbasis kecerdasan buatan asal Amerika Serikat, Claude Code, terhitung mulai 10 Juli 2025. Keputusan ini diambil setelah pihak otoritas Tiongkok mengeluarkan peringatan akan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh produk-produk teknologi AS, terutama yang berkaitan dengan keamanan data dan kedaulatan digital. Seluruh karyawan di unit bisnis Alibaba, termasuk tim pengembang perangkat lunak internal, kini diwajibkan untuk beralih ke alternatif lokal yang telah disiapkan perusahaan.
Langkah tegas Alibaba ini menjadi sinyal kuat bahwa perang teknologi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia memasuki babak baru. Peringatan dari pemerintah Tiongkok tidak hanya menyasar satu produk, melainkan seluruh ekosistem peranti lunak buatan Negeri Paman Sam yang dinilai berisiko tinggi terhadap kebocoran data strategis.
Latar Belakang Eskalasi Pembatasan Teknologi
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan teknologi antara Washington dan Beijing semakin memanas. Setelah Amerika Serikat memberlakukan kontrol ekspor ketat terhadap semikonduktor dan teknologi AI canggih, Tiongkok membalas dengan mempercepat program substitusi mandiri di berbagai sektor. Peringatan terbaru ini menekankan bahwa perangkat lunak seperti Claude Code—asisten pengodean yang dikembangkan oleh Anthropic dan didukung oleh raksasa cloud seperti Amazon Web Services—memiliki akses mendalam ke lingkungan komputasi internal perusahaan. Dikhawatirkan, data sensitif dan pola pengembangan perangkat lunak dapat terekspos ke server di luar yurisdiksi hukum Tiongkok.
Seorang pejabat senior Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa prioritas utama adalah menjaga keamanan rantai pasok digital nasional. "Produk apa pun yang tidak dapat dijamin kedaulatan datanya akan menghadapi pembatasan, terutama yang terhubung langsung ke pusat data asing," ujarnya dalam sebuah forum tertutup di Beijing.
Dampak Langsung bagi Ribuan Pengembang Alibaba
Kebijakan ini diperkirakan langsung berdampak pada lebih dari 5.000 insinyur perangkat lunak di Alibaba yang selama ini mengandalkan Claude Code untuk mempercepat proses pengembangan, debugging, dan penulisan kode secara otomatis. Alat tersebut dikenal mampu memahami konteks proyek yang kompleks dan menghasilkan baris kode dalam hitungan detik, menghemat hingga 30% waktu pengerjaan menurut riset internal beberapa perusahaan teknologi global.
Manajemen Alibaba telah menyiapkan masa transisi selama dua pekan sebelum larangan penuh diberlakukan. Seluruh tim diwajibkan mengikuti pelatihan migrasi ke platform AI lokal besutan Alibaba Cloud, yaitu Tongyi Lingma, yang dibangun di atas model bahasa besar Qwen 2.5. Tongyi Lingma versi terbaru diklaim mampu mendukung lebih dari 40 bahasa pemrograman, lengkap dengan integrasi otomatis ke layanan cloud domestik seperti ECS dan PolarDB.
Peta Jalan Alternatif Buatan Dalam Negeri
Alibaba bukan pemain tunggal. Perlombaan menciptakan asisten pengodean lokal telah dimulai sejak tahun lalu. Comate buatan Baidu dan SparkCode dari iFlytek juga sudah banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan BUMN. Namun, tekanan paling besar tentu ada pada Alibaba Cloud yang harus segera menghadirkan pengalaman pengguna setara dengan Claude Code, terutama dalam hal pemahaman bahasa alami dan kemampuan refactoring kode lintas repositori.
Berdasarkan pengujian benchmark internal yang beredar di kalangan komunitas pengembang Tiongkok, Tongyi Lingma 3.0 mampu mencapai skor 78,2 pada HumanEval untuk tugas Python, sementara Claude Code milik Anthropic mencatatkan skor 82,5. Meski masih tertinggal, lonjakan performa ini cukup signifikan dibandingkan versi sebelumnya yang hanya meraih 65,4.
Gelombang Berikut: Sektor Swasta Diperkirakan Ikut Menyusul
Larangan yang dimulai dari Alibaba ini diperkirakan hanya langkah awal. Sumber di lingkungan regulator mengatakan bahwa perusahaan teknologi swasta lainnya, seperti Tencent dan ByteDance, juga sedang dalam pembicaraan intensif dengan pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan internal mereka. Bahkan, kabarnya Kementerian Keamanan Siber akan merilis daftar hitam perangkat lunak asing yang dilarang digunakan di seluruh sektor strategis paling lambat akhir tahun ini.
Fenomena ini oleh para analis disebut sebagai "de-Americanization of China’s devstack"—sebuah upaya sistematis untuk melepaskan ketergantungan alat kerja sehari-hari dari vendor AS. Jika berhasil, lanskap pengembangan perangkat lunak di Tiongkok akan sepenuhnya bergeser ke ekosistem domestik yang lebih terkendali.
Respon Pasar dan Pandangan Global
Keputusan Alibaba mendapat reaksi beragam dari komunitas teknologi internasional. Sejumlah analis memandang langkah ini sebagai pukulan signifikan bagi perusahaan AI AS yang baru saja merambah pasar Asia Pasifik. "Pasar Tiongkok adalah salah satu yang paling bernilai bagi asisten AI pengodean, dan kehilangan akses ke perusahaan sebesar Alibaba akan memangkas potensi pendapatan global Anthropic secara material," ujar Li Wei, analis senior dari TH Capital.
Di sisi lain, investor Tiongkok menyambut baik kebijakan tersebut. Indeks saham sektor kecerdasan buatan di Bursa Shanghai tercatat naik 3,2% pada sesi perdagangan setelah pengumuman Alibaba, menandakan optimisme terhadap pengembang lokal yang akan menerima limpahan permintaan.
Alibaba sendiri menegaskan bahwa semua data dan proyek yang sebelumnya dikerjakan menggunakan Claude Code tidak akan dipindahkan ke server asing dan telah diamankan sepenuhnya di pusat data Alibaba Cloud yang berlokasi di dalam negeri. Langkah ini diharapkan mampu menenangkan kekhawatiran investor dan mitra bisnis terkait keberlanjutan operasional.
Dengan tenggat waktu 10 Juli yang semakin dekat, seluruh mata kini tertuju pada kesiapan infrastruktur AI lokal Alibaba. Jika transisi berjalan mulus, ini bisa menjadi cetak biru bagi negara lain yang ingin membangun kedaulatan teknologi tanpa mengorbankan produktivitas. Namun, jika gagal, Alibaba berisiko menghadapi gelombang kekesalan internal dan perlambatan proyek yang bisa merugikan miliaran yuan. Pertaruhan ini sekaligus menjadi ujian sesungguhnya bagi ambisi Tiongkok untuk mandiri dalam teknologi kecerdasan buatan.
Baca juga:
Comments (0)