Abaikan Desakan Mamdani, Netanyahu Tetap Lanjutkan Kunjungan ke AS

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertolak ke Amerika Serikat pada Senin, 27 Juli, dalam sebuah misi diplomatik yang telah memantik kontroversi bahkan sebelum roda pesawat meningga...

Abaikan Desakan Mamdani, Netanyahu Tetap Lanjutkan Kunjungan ke AS

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertolak ke Amerika Serikat pada Senin, 27 Juli, dalam sebuah misi diplomatik yang telah memantik kontroversi bahkan sebelum roda pesawat meninggalkan landasan. Di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap kebijakan pemerintahannya di Gaza dan Tepi Barat, Netanyahu justru menunjukkan sikap tak bergeming—termasuk terhadap desakan keras dari intelektual kenamaan Mahmood Mamdani yang dalam beberapa hari terakhir menyerukan agar Washington membatalkan undangan terhadap pemimpin Israel tersebut.

Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi Netanyahu ke Washington dalam hampir dua tahun, dan diperkirakan akan menjadi panggung penting bagi negosiasi strategis yang mencakup isu keamanan regional, normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab, serta pembahasan lanjutan mengenai paket bantuan militer yang selama ini menjadi tulang punggung aliansi kedua negara.

Desakan Mamdani yang Bergulir Tanpa Respons

Nama Mahmood Mamdani kembali mencuat setelah profesor studi Afrika dan politik internasional itu menerbitkan analisis tajam yang secara eksplisit mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk mempertimbangkan kembali undangan resmi terhadap Netanyahu. Dalam forum akademik dan wawancara media yang berlangsung sepanjang pekan lalu, Mamdani—yang dikenal sebagai pengkritik vokal pendudukan Israel atas wilayah Palestina—menyebut kunjungan ini sebagai "legitimasi yang diberikan di atas piring perak bagi rezim yang tengah menghadapi dakwaan serius di Mahkamah Internasional."

Namun, baik Tel Aviv maupun Washington tampaknya memilih jalur bungkam. Tidak ada pernyataan resmi dari Kantor Perdana Menteri Israel yang secara langsung menanggapi desakan tersebut. Seorang pejabat senior Israel yang berbicara tanpa bersedia dikutip namanya menyatakan bahwa "suara-suara dari kalangan akademis, sekritis apa pun, tidak akan mengubah prioritas strategis negara ini."

Sikap masa bodoh ini, menurut sejumlah analis, bukanlah hal yang mengejutkan. Netanyahu dalam beberapa tahun terakhir secara konsisten menunjukkan pola serupa: mengabaikan tekanan dari komunitas intelektual, organisasi hak asasi manusia, bahkan dari sekutu Eropa, selama ia masih menggenggam dukungan dari Kongres Amerika Serikat dan Gedung Putih.

Agenda Kunjungan: Lebih dari Sekadar Foto Bersama

Di balik kontroversi, kunjungan Netanyahu kali ini membawa agenda yang jauh lebih konkret. Berdasarkan dokumen briefing yang bocor ke media Timur Tengah, setidaknya ada tiga pilar utama yang akan dibahas selama pertemuan dengan Presiden AS dan pimpinan Kongres.

Pertama, pembicaraan mengenai paket bantuan pertahanan. Israel saat ini berada di bawah kerangka Memorandum of Understanding (MoU) senilai 38 miliar dolar AS yang berlaku hingga 2028. Namun, dengan eskalasi ketegangan di perbatasan utara dan selatan, Netanyahu disebut akan mengupayakan percepatan pencairan dan penambahan klausul darurat yang memungkinkan pengiriman sistem persenjataan ofensif dalam jumlah lebih besar.

Kedua, perluasan Perjanjian Abraham. Setelah sukses menormalisasi hubungan dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan pada periode 2020-2021, Israel kini mengincar lompatan besar berikutnya: Arab Saudi. Riyadh sejauh ini masih menahan diri, menjadikan kemerdekaan Palestina sebagai prasyarat. Netanyahu diyakini akan berusaha meyakinkan Washington untuk menekan Riyadh agar melunak, dengan iming-iming paket keamanan dan kerja sama nuklir sipil yang difasilitasi Amerika.

Ketiga, koordinasi strategis menghadapi poros Iran. Ini menjadi isu yang paling mungkin menemui titik temu antara kedua pemimpin. Program nuklir Iran yang terus melaju dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di Lebanon, Suriah, dan Yaman menjadi ancaman bersama yang mendesak. Netanyahu akan mendorong pembentukan kerangka kerja sama intelijen yang lebih agresif, termasuk kemungkinan operasi gabungan siber dan sabotase terhadap fasilitas pengayaan uranium Iran.

Selain tiga pilar utama itu, Netanyahu juga dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin komunitas Yahudi Amerika dan menyampaikan pidato di hadapan sesi gabungan Kongres—sebuah kehormatan langka yang menunjukkan betapa kuatnya dukungan bipartisan terhadap Israel di panggung politik Washington, terlepas dari friksi personal antara Netanyahu dan sejumlah tokoh Partai Demokrat.

Kritik Internal yang Tak Kalah Tajam

Ironisnya, desakan agar kunjungan ini dibatalkan tidak hanya datang dari Mamdani dan kalangan luar. Di dalam Israel sendiri, gelombang protes domestik yang telah berlangsung berbulan-bulan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kelompok-kelompok prodemokrasi menuduh Netanyahu menggunakan kunjungan ke luar negeri sebagai pelarian dari krisis politik di dalam negeri, termasuk tekanan terkait reformasi yudisial kontroversial yang memecah belah masyarakat Israel.

Seorang pengamat politik dari Universitas Ibrani Yerusalem mengatakan bahwa "Netanyahu membutuhkan kemenangan diplomatik di panggung internasional untuk mengalihkan perhatian dari krisis legitimasi yang ia hadapi di rumah sendiri." Jika ia pulang dengan membawa konsesi baru dari Washington atau terobosan menuju normalisasi dengan Arab Saudi, hal itu bisa menjadi amunisi politik yang berharga untuk meredam oposisi.

Dengan pesawat yang dijadwalkan lepas landas pada Senin pagi waktu setempat, semua mata kini tertuju pada Washington. Apakah kunjungan ini akan menghasilkan terobosan diplomatik bersejarah, atau justru memperdalam isolasi Israel di mata komunitas internasional—jawabannya akan terungkap dalam 72 jam ke depan. Yang pasti, bagi Benjamin Netanyahu, suara-suara seperti Mamdani hanyalah derau latar yang tak akan menghentikan langkahnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User