42 Pabrik Tebu Jadi Kunci PTPN I Amankan Pasokan Bioetanol

Jakarta, 21 Juni 2026 – PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) menyatakan keyakinannya dalam menjaga rantai pasok bahan baku bioetanol nasional. Optimisme ini bertumpu pada penguasaan 42 pabrik gula yan...

42 Pabrik Tebu Jadi Kunci PTPN I Amankan Pasokan Bioetanol

Jakarta, 21 Juni 2026 – PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) menyatakan keyakinannya dalam menjaga rantai pasok bahan baku bioetanol nasional. Optimisme ini bertumpu pada penguasaan 42 pabrik gula yang tersebar di berbagai wilayah strategis. Dalam sebuah tayangan video resmi, manajemen perseroan menegaskan bahwa seluruh unit pabrik tersebut siap menopang program pengembangan energi terbarukan berbasis tebu.

Keyakinan itu disampaikan di tengah akselerasi kebijakan pemerintah yang mendorong pencampuran bioetanol pada bahan bakar minyak. PTPN I, sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, menilai bahwa skala aset produksi yang dimiliki tidak hanya mencukupi kebutuhan gula konsumsi, tetapi juga membuka ruang besar bagi industri bioenergi. “Kami memiliki basis bahan baku yang solid. Tebu yang diolah di 42 pabrik ini menjadi fondasi untuk memproduksi tetes tebu sebagai sumber utama bioetanol,” demikian intisari pernyataan yang terekam dalam video tersebut.

Peta Infrastruktur Gula Nasional

Ke-42 pabrik gula di bawah naungan PTPN I tersebar dari Jawa Timur hingga Sumatera, membentuk salah satu jaringan produksi gula terbesar di Asia Tenggara. Secara teknis, setiap pabrik memiliki kapasitas giling yang bervariasi antara 2.000 hingga 10.000 ton tebu per hari (TCD). Dengan asumsi rendemen rata-rata 5 hingga 7 persen, total produksi tetes tebu—cairan kental yang kaya sukrosa dan menjadi pakan bagi mikroorganisme penghasil etanol—mencapai ratusan ribu kiloliter setiap musim giling.

Tetes tebu atau molases selama ini lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah, terutama ke negara-negara Asia Timur dan Eropa. Namun, PTPN I melihat momentum baru untuk mengolahnya di dalam negeri. Dengan konversi 1 ton tetes tebu mampu menghasilkan sekitar 230 hingga 260 liter bioetanol fuel grade, kapasitas yang tersedia di seluruh pabrik sudah jauh melampaui kebutuhan pencampuran awal yang ditetapkan pemerintah.

Tidak hanya molases, PTPN I juga mulai mengkaji pemanfaatan nira tebu langsung (sugarcane juice) sebagai jalur produksi etanol generasi pertama yang lebih murni. Dalam skema yang terintegrasi, nira tebu bisa diambil sebelum proses kristalisasi gula, menciptakan flexible biorefinery yang mampu beralih antara gula pangan dan gula energi sesuai permintaan pasar.

Dari Program Mandatori ke Peluang Ekspor

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan penggunaan bensin campur bioetanol 5 persen (E5) secara bertahap menuju E10 pada 2030. PTPN I mengklaim pasokan tetes dari 42 pabriknya mampu mendukung target tersebut sekaligus menyisakan potensi ekspor. Perhitungan kasar dari kalangan industri menunjukkan bahwa untuk mencapai E5 di seluruh Indonesia, dibutuhkan sekitar 1,5 juta kiloliter bioetanol fuel grade per tahun. Dengan basis produksi tetes nasional yang dikuasai PTPN Group lebih dari 60 persen, PTPN I bisa menjadi pemasok dominan.

Dalam video tersebut, divisi operasional PTPN I juga menyoroti sinergi dengan PT Pertamina (Persero) dan badan usaha lain untuk membangun tangki penyimpanan serta terminal blending di sekitar kilang. Fasilitas ini akan menyerap langsung bioetanol dari distrik-distrik pabrik gula, memangkas biaya logistik yang selama ini menjadi hambatan utama komersialisasi energi hijau berbasis tebu.

Di sisi lain, tren dekarbonisasi global membuka peluang ekspor ke pasar seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura yang mencari sumber biofuel bersertifikat rendah emisi. PTPN I, dengan 42 titik produksi yang dapat diaudit keberlanjutannya, memiliki posisi tawar tinggi. Pendampingan dari International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) pada beberapa pabrik percontohan pun sudah dimulai.

Tantangan Modernisasi dan Logistik

Meski secara kuantitas pabrik sangat memadai, PTPN I tidak menutup mata terhadap pekerjaan rumah besar: modernisasi mesin. Sebagian besar pabrik gula di Indonesia dibangun era kolonial dan baru mengalami revitalisasi parsial. Untuk menghasilkan tetes tebu bermutu tinggi yang stabil bagi fermentasi, diperlukan penanganan pasca-giling yang presisi, termasuk pengendalian suhu, sterilisasi, dan penyimpanan tertutup agar kadar gula residu tetap optimal.

Manajemen PTPN I menyatakan telah menyusun rencana investasi bertahap senilai triliunan rupiah. Dana tersebut digunakan untuk mengganti turbin tua, memasang sensor Internet of Things (IoT) guna memantau kualitas nira secara real-time, serta membangun unit distilasi mini terdesentralisasi di beberapa klaster pabrik. Dengan pendekatan ini, setiap pabrik gula tidak sekadar menjadi pemasok tetes mentah, tetapi berubah menjadi pusat produksi etanol yang siap suplai langsung ke depot BBM.

Dari segi logistik, tantangan distribusi tetes tebu yang kental dan mudah terkontaminasi dijawab dengan pengembangan sistem perpipaan pendek serta terminal pengumpul berbasis rel kereta. PTPN I juga menjajaki kerja sama dengan BUMN logistik untuk membangun jalur khusus bahan bakar nabati (biofuel corridor) yang menghubungkan sentra tebu di Jawa Timur menuju Surabaya dan Jakarta.

Proyeksi Jangka Panjang

Dengan basis 42 pabrik tebu yang terus diremajakan, PTPN I memproyeksikan peningkatan produksi bioetanol hingga tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan. Skema kemitraan dengan petani tebu rakyat juga diperluas melalui program intensifikasi lahan dan penggunaan bibit unggul berproduktivitas tinggi. Manajemen yakin bahwa konsistensi pasokan tebu akan menjadi kunci menghidupkan industri biofuel dalam negeri, sekaligus menciptakan efek berganda bagi lebih dari 900 ribu petani tebu yang menggantungkan hidup pada ekosistem ini.

Video yang dirilis PTPN I menjadi sinyal terbuka bahwa perusahaan pelat merah ini siap bertransformasi dari sekadar produsen gula menjadi pemain utama bioenergi nasional. Dengan potensi besar yang belum tergarap optimal, tayangan tersebut seakan menjawab keraguan publik tentang kesiapan hulu industri bioetanol. “Kami punya pabriknya, kami punya tebunya, dan sekarang kami tinggal menyempurnakan teknologinya,” begitu pesan kunci yang hendak disampaikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User