108 Sekolah di Sarawak Tutup Akibat Kabut Asap Karhutla Indonesia
Kabut asap kembali menjadi tamu tak diundang di Asia Tenggara. Pemerintah Malaysia pekan ini mengambil langkah darurat dengan menutup 108 sekolah di distrik Serian, negara bagian Sarawak, wilayah yang...
Kabut asap kembali menjadi tamu tak diundang di Asia Tenggara. Pemerintah Malaysia pekan ini mengambil langkah darurat dengan menutup 108 sekolah di distrik Serian, negara bagian Sarawak, wilayah yang berbatasan langsung dengan Kalimantan. Pemicunya adalah kebakaran hutan dan lahan, atau karhutla, di Indonesia yang asapnya terbawa angin menyeberangi perbatasan. Bagi orang awam, kabut asap mungkin tampak seperti pemandangan berkabut biasa. Padahal, di balik penampakannya yang kelabu tersimpan ancaman bagi paru-paru, terutama bagi anak-anak yang seharusnya berangkat ke sekolah setiap pagi.
Mengapa kabut asap lintas batas ini patut diwaspadai?
Ibarat sebuah rumah yang tetangganya membakar sampah di halaman belakang, asapnya perlahan menyusup lewat celah jendela dan membuat semua penghuninya sulit bernapas. Begitulah kira-kira situasi yang dialami warga Serian saat ini. Penutupan 108 sekolah bukanlah keputusan yang diambil dengan enteng. Langkah ini diambil demi melindungi ribuan pelajar dari risiko gangguan kesehatan, sekaligus menjadi sinyal bahwa kualitas udara di kawasan tersebut telah berada di level yang mengkhawatirkan. Dampaknya tidak berhenti di ruang kelas: orang tua harus mengatur ulang jadwal kerja, aktivitas ekonomi melambat, dan layanan kesehatan publik mendapat beban ekstra.
Mengenal karhutla dan musuh tak terlihat bernama PM2.5
Karhutla adalah singkatan dari kebakaran hutan dan lahan, sebuah fenomena yang hampir setiap tahun muncul di musim kemarau. Kebakaran ini sering kali berawal dari praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, yang kemudian meluas di luar kendali ketika lahan gambut ikut terbakar. Gambut, tanah yang kaya bahan organik, bisa menyala di bawah permukaan dan menghasilkan asap tebal selama berminggu-minggu.
Di dalam asap itulah bersembunyi PM2.5, singkatan dari particulate matter, yaitu partikel halus dengan diameter 2,5 mikrometer atau sekitar 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini bisa menembus saluran pernapasan hingga ke alveoli, kantong udara di paru-paru, dan masuk ke aliran darah. Untuk mengukur tingkat bahayanya, Malaysia menggunakan Air Pollutant Index (API), sementara Indonesia memiliki Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Keduanya adalah alat baca yang memberi tahu seberapa buruk kualitas udara pada suatu waktu.
Dampak nyata pada kesehatan dan dunia pendidikan
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat kabut asap melanda. Sistem pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan, sehingga paparan partikel halus dapat memicu batuk, iritasi mata, asma, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Itulah mengapa penutupan sekolah menjadi pilihan paling masuk akal: melindungi kesehatan jangka pendek lebih utama daripada mengejar target hari belajar. Namun konsekuensinya, kegiatan belajar-mengajar terganggu, dan guru serta siswa harus mengejar ketertinggalan materi ketika keadaan membaik.
Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kabut asap yang parah juga berpotensi memicu lonjakan pasien di fasilitas kesehatan. Rumah sakit dan puskesmas di wilayah terdampak biasanya mencatat peningkatan kunjungan akibat gangguan pernapasan, sehingga pemerintah daerah dituntut menyiapkan stok obat dan alat bantu pernapasan. Di sisi lain, sektor penerbangan ikut merasakan dampaknya karena jarak pandang menurun drastis, memaksa jadwal penerbangan ditunda atau dialihkan.
Upaya penanganan dan harapan kerja sama regional
Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendirian oleh satu negara. Indonesia dan Malaysia sebenarnya sudah memiliki payung kerja sama melalui Perjanjian ASEAN tentang Polusi Asap Lintas Batas, yang diratifikasi Indonesia pada 2014. Namun implementasi di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah bersama, mulai dari deteksi dini hingga pencegahan kebakaran di tingkat tapak.
Teknologi ikut berperan dalam pengembangan sistem pemantauan. Satelit pendeteksi titik panas digunakan untuk memetakan lokasi kebakaran secara real time, sementara algoritma machine learning mulai dipakai untuk memprediksi sebaran asap berdasarkan arah angin dan kondisi cuaca. Inovasi lain seperti penyemaian awan atau cloud seeding untuk memicu hujan buatan juga pernah diandalkan untuk memadamkan kebakaran dari udara. Namun semua teknologi itu hanya efektif jika dibarengi penegakan hukum yang tegas dan kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Penutupan 108 sekolah di Serian adalah alarm yang harus didengar semua pihak. Kabut asap bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan masalah kesehatan, pendidikan, dan ekonomi yang menimpa jutaan orang. Selama akar masalahnya belum dibereskan, kekhawatiran yang sama akan terus berulang setiap musim kemarau tiba.
Comments (0)