10 Kecamatan di NTB Ditetapkan Waspada Kekeringan Meteorologis

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini menetapkan status waspada kekeringan meteorologis untuk sepuluh kecamatan yang tersebar di enam kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB...

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini menetapkan status waspada kekeringan meteorologis untuk sepuluh kecamatan yang tersebar di enam kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB). Penetapan ini menjadi alarm dini bagi pemerintah daerah dan masyarakat, mengingat musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dari biasanya akibat pengaruh fenomena iklim global. Sepuluh kecamatan itu dinilai mengalami defisit curah hujan harian yang signifikan selama lebih dari 30 hari berturut-turut, sehingga masuk kategori waspada. Kondisi ini berpotensi memicu gagal panen, krisis air bersih, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Keputusan BMKG didasarkan pada pemantauan citra satelit dan data dari stasiun klimatologi setempat. Hampir seluruh wilayah di selatan ekuator, termasuk NTB, saat ini tengah memasuki puncak periode kering. Meskipun sebagian daerah masih sesekali diguyur hujan sporadis, akumulasi curah hujan bulanan di lokasi yang berstatus waspada sudah berada di bawah ambang batas 50 milimeter per dasarian. Artinya, dalam sepuluh hari, hujan yang turun tidak cukup membasahi tanah dan memenuhi kebutuhan vegetasi maupun cadangan air permukaan.

Daftar Wilayah Terdampak

Berdasarkan peta kerentanan yang dirilis, kecamatan yang masuk status waspada tersebar di Pulau Lombok, Sumbawa, dan Bima. Di Kabupaten Lombok Barat, dua kecamatan menjadi sorotan utama, yakni Gerung dan Lembar. Keduanya merupakan lumbung pertanian tadah hujan yang sangat bergantung pada siklus musim. Di Lombok Timur, status serupa disematkan pada Sakra dan Keruak, sentra produksi padi yang belakangan mulai mengeluhkan penurunan debit saluran irigasi. Lombok Tengah tak luput dari ancaman dengan ditetapkannya Praya Barat dan Pujut sebagai daerah rawan—Pujut terletak di kawasan selatan yang memang identik dengan lahan kering dan savana.

Sementara itu, Kabupaten Lombok Utara mencatat satu titik, yaitu Tanjung, yang merupakan ibukota sekaligus pusat aktivitas pariwisata pesisir. Di Pulau Sumbawa, Utan di Kabupaten Sumbawa masuk daftar waspada karena menderita kekeringan berkepanjangan yang mengganggu peternakan rakyat. Dua kecamatan terakhir berada di Kabupaten Bima: Woha dan Donggo, daerah perbukitan yang lahan jagungnya mulai mengering. Total sepuluh kecamatan ini merepresentasikan keragaman tipe wilayah—dari dataran rendah pantai hingga perbukitan—yang dihubungkan oleh kurangnya pasokan air hujan.

Faktor Pemicu dan Potensi Dampak

Status waspada kekeringan meteorologis bukan semata-mata soal absennya hujan. Parameter utamanya adalah selisih antara curah hujan terukur dengan kebutuhan air tanaman (evapotranspirasi) yang terus melebar. BMKG mencatat bahwa anomali suhu muka laut di Samudera Hindia bagian timur turut memperlemah pembentukan awan konvektif di atas NTB. Kondisi ini diperburuk oleh fenomena El Niño moderat yang diprediksi berlangsung hingga akhir tahun. Akibatnya, uap air yang menjadi bahan baku hujan sulit mencapai daratan, sementara penguapan dari permukaan tanah dan badan air justru meningkat drastis.

Dampak yang paling kasat mata adalah kegagalan panen di lahan non-irigasi. Di Gerung dan Lembar, misalnya, petani jagung dan padi gogo mulai melaporkan tanaman yang mengering sebelum masa panen. Peternak sapi di Utan mengeluhkan rumput pakan yang menguning, sehingga mereka terpaksa mencari hijauan hingga ke lereng bukit yang jaraknya makin jauh. Di Pujut dan Donggo, sumber mata air pegunungan yang biasanya menjadi andalan wisata dan rumah tangga, debitnya menyusut hingga 40 persen dari kondisi normal. Sektor pariwisata di Tanjung, Lombok Utara, juga terancam jika distribusi air bersih terganggu, apalagi dengan banyaknya akomodasi yang mengandalkan sumur bor.

Risiko kebakaran hutan ikut meningkat. Lahan savana di Pujut dan hutan sekunder di Donggo mengandung banyak serasah kering yang gampang tersulut. Dalam dua pekan terakhir, satelit Terra dan Aqua telah mendeteksi beberapa titik panas (hotspot) yang meskipun masih berskala kecil, bisa meluas jika penanganan terlambat. Oleh karena itu, status waspada ini seharusnya menjadi pendorong bagi instansi terkait untuk memperketat patroli dan menyiapkan posko kedaruratan.

Langkah Antisipasi dan Imbauan BMKG

Menanggapi penetapan ini, BMKG melalui Stasiun Klimatologi Lombok Barat memberikan sejumlah rekomendasi. Pertama, masyarakat diimbau untuk memanen air hujan musim pancaroba terakhir yang masih mungkin turun, dengan membangun atau memperbaiki embung dan penampungan air atap. Kedua, petani disarankan beralih ke komoditas pangan yang lebih tahan kering, seperti sorgum, kacang hijau, atau porang, serta menunda musim tanam hingga ada kepastian masuknya musim hujan. Ketiga, pemerintah kabupaten diminta mempercepat distribusi bantuan air bersih dengan memetakan desa-desa yang paling rentan, terutama yang mengandalkan sumber air tanah dangkal.

BMKG juga menekankan pentingnya sinergi data dengan Dinas Pertanian dan BPBD. Informasi prakiraan awal musim hujan yang akan dirilis bulan depan harus menjadi acuan utama dalam menyusun kalender tanam 2025/2026. Untuk jangka pendek, teknologi modifikasi cuaca dapat dipertimbangkan, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada ketersediaan awan potensial—sesuatu yang langka di tengah kondisi kering seperti saat ini. Oleh karenanya, strategi adaptasi yang bersifat bottom-up, seperti revitalisasi sumur resapan dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara partisipatif, dinilai lebih realistis.

Masyarakat di sepuluh kecamatan tersebut juga diminta aktif memantau update cuaca melalui kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi InfoBMKG dan media sosial. Dengan demikian, peringatan dini dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret sebelum kekeringan berdampak pada sendi ekonomi dan kesehatan publik. Langkah proaktif ini diharapkan mampu meminimalkan kerugian, sekaligus membuktikan bahwa informasi iklim yang akurat bisa menjadi perisai di tengah ancaman hidrometeorologi yang kian sulit diprediksi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User